Mari Peduli Konservasi Badak Jawa

Badak Jawa berendam di sungai di Kawasan TN Ujung Kulon
 Foto: Nardelli (1986), diambil dari sumber
Semenjak awal tahun 2012 ini, tidak henti-hentinya muncul publikasi, kegiatan, dan kampanye Dukung  Pelestarian Badak Jawa. Tahun ini memang dicanangkan sebagai Year of the Rhino oleh Pemerintah Indonesia atas mandat dari lembaga konservasi dunia IUCN (International Union for Conservation of Nature) dengan didukung oleh berbagai LSM dan berbagai pihak. Sebelum Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan secara resmi selasa kemarin, International Rhino Foundation (IRF) juga telah mencanangkan tahun ini sebagai Tahun Badak. Semenjak kematian Torgamba, badak Sumatera jantan yang ada di Suaka Rhino Sumatera/Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) Taman Nasional Way Kambas, akhir Maret tahun lalu, perhatian berbagai pihak terhadap badak menjadi lebih serius. Bersamaan dengan peringatan Tahun Badak, berbagai kalangan berlomba-lomba mengadakan seminar, diskusi ilmiah, dan kampanye pelestarian badak sebagai wujud kepedulian terhadap satwa endemik Indonesia ini. Ya, Indonesia memiliki dua dari lima spesies badak yang masih ada di dunia, yaitu badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis). Sungguh merupakan kekayaan alam Indonesia yang luar biasa, dan sepatutnya kita jaga.

Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) sendiri, merupakan spesies badak yang dimasukkan dalam kategori critically endangered (IUCN 2008). Data perkembangan populasi badak Jawa yang dihimpun oleh WWF-Indonesia menyebutkan bahwa pada tahun 1960-an diperkirakan hanya terdapat 20-30 ekor badak di TN Ujung Kulon, kemudian meningkat menjadi dua kali lipat sekitar tahun 1967 sampai 1978. Diperkirakan sampai akhir tahun 2011, populasi badak Jawa mencapai 35 individu, dari hasil identifikasi melalui camera trap (WWF Indonesia). Sungguh memprihatinkan bukan? Beberapa kali saya mengikuti kajian mengenai konservasi badak, diantaranya Seminar Nasional Pelestarian Badak melalui Konservasi dan Medis di FKH UGM (beritanya disini) serta Seminar Nasional Save Our Rhinoceros yang diadakan oleh FKH IPB (beritanya disini). Informasi yang saya dapat dari hasil berpetualang mengikuti beberapa kegiatan terkait konservasi badak tersebut cukup membuat saya tergugah untuk lebih peduli terhadap kelestarian satwa-satwa Indonesia. Suatu nilai positif juga karena pemerintah Indonesia dan LSM terkait memberikan perhatian lebih, salah satunya program Dukung Pelestarian Badak Jawa.

Secara historis memang ada kesalahan regulasi pada masa silam, pada abad ke-19, ada anggapan yang salah terhadap badak Jawa sehingga badak dianggap sebagai hama pertanian. Bahkan, menembak mati badak akan mendapatkan hadiah, hal ini tercatat dalam perjalanan sejarah masyarakat Indonesia. Pada tahun 1912, badak Jawa masih mudah dijumpai di daerah Karawang (data yang dihimpun Yayasan Badak Indonesia-YABI). Sumber lain menyatakan, tahun 1914 masih dijumpai pasangan badak Jawa di daerah Karangnunggal, Tasikmalaya, tetapi naas, badak Jawa betina mati akibat ulah pemburu liar. Sehingga 20 tahun kemudian, dengan berbagai pertimbangan, sebuah tim dari Museum Zoologi Buitenzorg, dikirim untuk mendahului para pemburu yang terus memburu cula badak tersebut. Akhirnya pada tanggal 31 Januari 1934, P.F. Frank dan tim berhasil menembak mati badak tersebut. Badak yang dinyatakan sebagai badak Jawa terakhir di luar TN Ujung Kulon tersebut akhirnya diawetkan untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan dapat dilihat di dalam etalase berukuran besar di Museum Zoologi  Bogor (sumber lengkapnya di sini). Mengikuti perkembangan badak Jawa dari segi historisnya, setengah tidak percaya, ternyata begitu serakahnya manusia sehingga tidak memperdulikan habitat hidup satwa di sekitarnya, dan habitat badak Jawa saat ini hanya pada sebagian kecil kawasan TN Ujung Kulon, bukan seluruh kawasan. Sejarah memang tidak bisa diulang, tetapi mari kita perbaiki kesalahan tersebut dan Dukung Pelestarian Badak Jawa.

Badak Jawa jantan, individu terakhir badak Jawa diluar Ujung Kulon yang ditembak mati di daerah Karangnunggal, Tasikmalaya. P.F. Frank (1934). 


Apakah kita ingin badak Jawa dinyatakan punah seperti halnya kerabat badak Jawa (subspesies) yang ada di Vietnam?  26 Oktober 2010 WWF International dan International Rhino Foundation menyatakan bahwa badak Jawa Vietnam (Rhinoceros sondaicus annamiticus) sudah punah untuk selamanya setelah tahun 2010 ditemukan badak terakhir dalam keadaan mati (sumber: detikNews). Tentu saja kita tidak mau hal itu terjadi pada badak Jawa di Ujung Kulon.

Pendekatan ekologi dan sosiokultural menjadi kunci utama dalam upaya pelestarian badak. Saat ini, kawasan yang menjadi rumah bagi badak Jawa sudah semakin tergeser oleh invasi yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar kawasan TN Ujung Kulon. Tidak bisa dipungkiri memang, akan tetapi paling tidak dengan pemberian informasi yang baik dan benar, masyarakat juga akan mendapatkan edukasi terkait pelestarian badak. Apakah kita masih tidak peduli? Saya masih ingat betul kalimat yang diucapkan oleh Dr. Ir. Novianto Bambang W, MSi pada sesi seminar di Jogja, "Saat ini badak menjadi satwa yang mendapatkan banyak perhatian dunia karena populasinya yang semakin hari semakin menurun. Badak Jawa dan badak Sumatera bukan lagi milik Taman Nasional, bukan lagi milik Indonesia, tetapi milik dunia.", begitu kata Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Direktorat Jenderal PHKA.

Untuk itu, mari kita Dukung Pelestarian Badak Jawa  lebih dari dukungan yang diberikan oleh masyarakat dunia. Kalau saat ini kita semua sedang menunggu kabar gembira akan lahirnya badak Sumatera dari rahim Ratu (badak Sumatera di Suaka Rhino Sumatera, red), kapan kita dapat mendengar kabar gembira bertambahnya populasi badak Jawa di TN Ujung Kulon? Atau setidaknya badak-badak yang masih ada dapat bertahan dan berkembang biak nantinya. WWF sebagai lembaga nirlaba juga menyusun program pelestarian badak Jawa, yaitu RhinoCare - Donation Program for Javan Rhino. Salah satu yang unik adalah program Adopsi badak Jawa. Bagaimana mungkin? Melalui program ini, masyarakat yang peduli bisa memberikan donasi yang dipergunakan untuk upaya pelestarian badak Jawa di habitat in situ, jadi bukan mengadopsi dengan cara dipelihara di rumah. Ingat, rumah paling baik untuk badak Jawa tersebut adalah di habitat yang sekarang, yaitu di kawasan TN Ujung Kulon. Melalui tulisan di blog ini, semoga ada nilai edukasi bagi siapa saja yang membaca, sehingga Rhino Conservation Campaign yang banyak diteriakkan oleh aktivis, LSM, dan lembaga-lembaga konservasi untuk Dukung Pelestarian Badak Jawa mendapat sambutan bagus juga dari masyarakat. Salam lestari!

Dokter hewan. Dosen. Blog menjadi media tulis selain kertas dan aplikasi pengolah teks.

14 comments

  1. luarrr biasa mas dab, baru semalam dikasih tau dah langsung posting ^_^
    1. Run Rhino Run! Dukung dan kampanyekan pelestarian badak Jawa.
  2. badak jawa emg udah memprihatinkan... semoga bnyk yg sadar
    1. termasuk dirimu sadar jg...wkwkw
  3. Jangan sampai badak jawa hanya menjadi cerita dongeng bagi anak cucu kita nanti. Ancaman terbesar badak jawa dan satwa langka lainnya adalah manusia. So, it starts from us. Save the rhinos!
    1. Yap! starts from us....
      Thanks atas komentar maknyus-nya..
  4. keren mas,,, sampai jumpa di ujung kulon,,,
    1. Yap,tulisan mas harris juga TOP tenan...selamat Mas,
      sampai ketemu juga...oia,mas brgkt dr bogor bukan? jam brapa?
      kalo boleh nanti tukeran no.kontak via DM twitter aja...masih newbie saya..
  5. selmat yah mas, sampai ketemu di ujung kulon , salam :)
    1. Ok, selamat juga....sampai ketemu disana..salamlestari!
    2. btw udah di bales blum om email dari detiknya?
    3. udah masbro...persiapaaan...
  6. Selamat ya, telah menjadi salah satu pemenang.
  7. matur nuwun bro...
Komentar atau tidak komentar tetap thank you.