Pengamatan Satwa di PPKA Bodogol,TN Gunung Gede-Pangrango

Sabtu kemarin (21/05/2011), Himpunan Minat Profesi (Himpro) Satwaliar FKH IPB mengadakan kegiatan eksternal berupa pengamatan satwa primata dan karnivora di Pusat Pendidikan dan Konservasi Alam Bodogol (PPKAB) . Kegiatan seperti ini merupakan agenda lapang yang rutin dilaksanakan Himpro Satwaliar. PPKA Bodogol berada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Kegiatan diselenggarakan di kawasan PPKA Bodogol dengan tujuan untuk melakukan pengamatan satwa di lokasi in situ, sehingga peserta yang sebagian besar mahasiswa dapat mengetahui dan belajar lebih banyak terkait bagaimana kehidupan satwa secara alami di habitat aslinya.

Kegiatan ini diikuti juga oleh beberapa dokter hewan, yang tidak lain adalah senior-senior saya. Kegiatan pengamatan di PPKA Bodogol dilaksanakan selama dua hari, Sabtu hingga Minggu. Peserta berangkat dari Dramaga pukul 04.00 WIB menggunakan truk, dan dilanjutkan perjalanan yang ditempuh dengan berjalan kaki setelah beristirahat dan sarapan. Perjalanan mendaki dari tempat perhentian pertama ke lokasi PPKA Bodogol ditempuh selama kurang lebih 1,5 jam. Setelah sampai di lokasi, peserta mendapatkan penjelasan dan pengarahan dari pihak pengelola.

Menurut keterangan guide kami, di kawasan Bodogol tersebut, terdapat 5 jenis Primata, termasuk owa jawa (Hylobates moloch), kukang (Nycticebus javanicus), lutung budeng (Trachypithecus auratus), dan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Khusus untuk owa jawa, disebutkan bahwa di Bodogol, terdapat 9 kelompok owa jawa yang tersebar di beberapa tempat. Selain pimata, diduga terdapat 6 ekor macan tutul (Panthera pardus subsp. melas) di kawasan tersebut, berdasarkan camera trap yang dipasang di beberapa titik.

Pengamatan hari pertama dilakukan di beberapa jalur, yaitu jalur Afrika, jalur Kanopi, dan jalur Rasamala. Pada pengamatan tersebut, ditemukan beberapa inventaris, yaitu ditemukan feses owa jawa (Hylobates moloch) dan jejak macan tutul (Panthera pardus subsp. melas), meskipun belum berhasil melihat langsung satwa primata maupun karnivora. Akan tetapi, pada sore hari setelah turun hujan, sekelompok owa jawa terlihat di sekitar mess. Sungguh pemandangan yang luar biasa ketika melihat mahluk Tuhan tersebut berpindah dari satu pohon ke pohon lain dengan kedua lengannya. Memang tipe bergerak owa jawa begitu, tipe brachiaci. Saya hanya bisa berucap syukur. Malam harinya, saya dan beberapa teman yang lain melakukan herping (pengamatan herpetofauna) dan mendapati berbagai jenis katak dan ular di sekitar hutan jalur Rasamala.

Pengamatan kedua lebih menegangkan, menempuh jalur terpanjang Cipadaranten yang ditempuh selama 7 jam pergi-pulang (PP). Dalam perjalanan, di lokasi 1700 m jalur tersebut, kami mendapati 2 kelompok owa jawa di atas pohon afrika sambil mengeluarkan suara sahut-sahutan. Lebih seru lagi, di tengah perjalanan, kami mendengar raungan macan tutul  di lembah, di bawah jalur yang kami lalui, sepertinya 2 macan sedang memperebutkan makanan, sungguh luar biasa. Perjalanan di tengah hutan di kawasan TN Gunung Gede Pangrango sambil diguyur hujan deras meninggalkan kesan tesendiri bagi saya. Selain dapat mengenal lebih dekat dengan satwa di habitat in situ, saya juga bisa lebih bersyukur atas nikmat dan mengagumi ciptaan-Nya.
Dokter hewan. Dosen. Blog menjadi media tulis selain kertas dan aplikasi pengolah teks.

2 comments

  1. wah sayang aku ga bisa ikut
  2. wuih, iya, aq aja ikut gr2 yg tahun sebelumnya ga bisa ikut... alhamdulillah bisa liat owa jawa dr jarak dekat di alam...n denger suara macan serem bgt di tengah hutan gitu...next time bro, kita tunggu
Komentar atau tidak komentar tetap thank you.