For professional profile please visit my LinkedIn

Catatan akhir sekolah: pesan bagi siapa saja yang berniat menempuh studi doktoral


Sudah beberapa bulan saya tidak menerbitkan tulisan apa-apa di blog ini. Maklum, beberapa bulan terakhir saya disibukkan dengan menulis tesis (doctoral thesis) dan mempersiapkan ujian. Alhamdulillah akhirnya saya melewati tahap itu. Iya, saya masih harus menulis tesis sebagai syarat untuk mendapatkan gelar doktoral (PhD). Sebetulnya, tidak semua program studi atau sekolah di Jepang menjadikan tesis sebagai syarat untuk mendapatkan gelar. Misalnya saja di Tottori University, di Graduate School of Medical Sciences, kandidat doktor tidak perlu menulis tesis, ini saya tahu setelah sharing dengan dr. Agung, salah satu rekan seangkatan (beda jurusan), teman seperjuangan. Kami sama-sama akan diwisuda musim semi ini). 

Di Joint Graduate School of Veterinary Sciences Tottori University-Gifu University, tempat saya menempuh pendidikan S3, tesis digunakan sebagai salah satu bahan screening untuk menentukan apakah seorang mahasiswa doktoral layak untuk lanjut ke tahapan selanjutnya, yaitu ujian tesis dan selanjutnya mendapatkan gelar PhD. Tanggal 8 Desember 2023, yang juga merupakan batas akhir pengumpulan tesis ke kantor program studi, saya mengumpulkan tesis saya. Selama kurang lebih satu bulan, tesis saya ditelaah oleh lima profesor (tim reviewer, saya tidak tahu siapa saja) yang ditunjuk. Selain itu, empat tesis dikirimkan oleh profesor saya ke anggota komisi penguji tesis saya, dua profesor dari Tottori University dan dua profesor dari Gifu University. Profesor-profesor tersebut berasal dari laboratorium/bidang veterinary anatomy, laboratory animal medicine, veterinary patology, dan pathological physiology.

Awal bulan Januari 2024, profesor saya memberitahukan bahwa saya akan melaksanakan presentasi dua kali; pertama adalah ujian tesis bersama dengan komite ujian (tanggal 15 Januari 2024), dan kedua adalah presentasi tesis di depan publik (tanggal 23 Januari 2024, diikuti oleh sivitas program studi, baik dari Tottori University maupun Gifu University). Beliau bilang ini adalah sistem baru, dan seingat saya tahun lalu juga senior saya hanya sekali melakukan presentasi (langsung presentasi publik). Sistem baru ini, saya katakan mirip dengan yang dilakukan di Indonesia, ada ujian tertutup dan terbuka (sidang promosi doktor). Ujian tesis saya dilakukan dengan sistem online, antara sudah terlalu nyaman dengan sistem ini sejak masa pandemi SARS-CoV2 lalu, atau memang untuk mengakomodasi penguji dari Gifu yang tentu tidak efisien jika harus ke Tottori. Setelah ujian pertama, profesor saya bilang bahwa semua anggota komite ujian setuju atas kelulusan dan pemberian gelar doktoral bagi saya. Alhamdulillah. Setelahnya, pada presentasi publik, saya melakukan presentasi di ruang seminar yang dihadiri para profesor dan mahasiswa Tottori University, dari Departemen Kedokteran Hewan. Presentasi dilaksanakan dengan sistem hybrid, terhubung dengan peserta dari Gifu University melalui sambungan teleconference. Saya mempresentasikan tugas akhir saya yang berjudul Study on the Profile of Sulfated Glycosaminoglycans, Chondroitin Sulfate/Dermatan Sulfate, in 3T3-L1 Adipocyte Differentiation: Chondroitin Sulfate Potential on Adipogenesis Inhibition selama kurang lebih 30 menit, dilanjutkan dengan durasi tanya-jawab selama 30 menit juga. Mungkin tergolong ringkas, dibandingkan pelaksanaan di negara lain, termasuk di Indonesia.

Sedikit cerita, selama sesi tanya jawab dalam presentasi doctoral thesis saya, sama halnya dengan presentasi-presentasi yang pernah saya ikuti selama saya menjadi mahasiswa doktoral, tidak jarang ada pertanyaan-pertanyaan skeptis. Ya, tentu dari sudut pandang kita, mungkin kita merasa penelitian kita sudah sempurna, sudah seperti seharusnya, atau sudah sesuai dengan permasalahan yang ada. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa ada sudut pandang yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Sehingga kita perlu siap dengan komentar dan pertanyaan skeptis yang secara tidak langsung menjadi kritik terhadap apa yang sudah kita kerjakan. Apakah kritik terhadap metode yang kita lakukan, latar belakang penelitian yang kurang kuat, hasil penelitiannya, atau penarikan simpulan yang terlalu jauh dari hasil dan bukti yang didapatkan. Hal-hal yang mengasah pemikiran ini yang saya bersyukur bisa mendapatkan selama studi S3. Paling pertama, pemikiran skeptis terhadap gagasan dan apa yang saya lakukan itu datang dari profesor saya sendiri, ini seperti latihan yang saya alami sepanjang masa studi. Ide yang sering di-mentah-kan oleh profesor pembimbing, dibilang tidak masuk akal, dan sebagainya. Apakah kecewa? Tentu ada rasa kecewa. Kecewa karena saya merasa sudah banyak baca dan mempelajari tentang apa yang akan atau sudah dikerjakan. Apakah marah? Tentu tidak. Proses seperti ini yang terjadi secara kontinyu membuat kita kebal dan lebih mudah menerima pemikiran skeptis atau kritik dari orang lain. Dengan begitu, kita juga lebih siap memberikan tanggapan yang juga bernas. Prinsipnya, ekosistem akademik itu memberikan ruang untuk saling menguji pemikiran, jadi tidak seharusnya ada yang merasa tersinggung dengan kritik atau komentar skeptis selama disampaikan dengan menjunjung tinggi etika berkomunikasi.

Di bagian akhir, saya ingin menekankan bahwa tujuan atau goal yang utama dari melaksanakan studi S3 (doktor) adalah untuk menjadi seorang peneliti yang independen, bukan publikasi. Hanya saja, karena karya publikasi adalah salah satu parameter bagi program studi atau universitas melakukan evaluasi, banyak dari kita mungkin berpikir satu-satunya yang harus dicapai dalam studi S3 adalah publikasi. Sederhananya, publikasi adalah produk yang bisa dievaluasi oleh universitas, tetapi dari perspektif kita yang melaksanakan studi S3, capaiannya adalah pengembangan diri hingga siap terjun sebagai profesional yang independen. Beberapa waktu yang lalu di akun instagram @danangisme, saya menulis "words of advice" bagi siapa saja yang baru atau berniat menjalani studi doktoral, sebagai berikut (saya copy-paste saja):
It’s been almost 4 years of my PhD, so I want to encourage the younger generation to take this kind of opportunity. If you’re new to the PhD or are about to get started, here are some words of advice:

1. No one expects you to know everything; so ask all questions all the time. The most important is that, first, you must try to find the answer from any sources but the supervisor, because they may expect you to be able to learn, to do a comprehensive literature review. You should be aware that in some cases, your supervisor is the only way to get the answer.

2. Learn as much as possible, and read papers as much as you can, because PhD is your responsibility. My supervisor once said, “You are working on your own project, you lead the project, so it is your responsibility”. He said that PhD is a training, that requires you to be semi-independent. With a lot of time you have spent reading and learning many things related to your project, you know better about your project than others, even better than your supervisor.

3. Remember that your plan is not always perfect and you may not complete all of your research ideas. “No one will blame you if you can not finish all of these research plans.”, He said. Nobody! not even supervisors. They should not blame you, instead, give you support.

4. You may fail on your experiments (you need this kind of experience sometimes), and you make mistakes, but never think that you can lie. You have to understand what is considered research misconduct and learn about research ethics. If you lie about your research, I am telling you that it is your biggest failure as a researcher.

5. Be super-organized! PhD is the time to improve your skill in organizing many things. Especially a bunch of research data. Do not ever publish a paper with overlapping images (the same image is claimed on two different experimental groups) just because they are not well-organized! I found this kind of mistake in some published papers, even in International journals. Some of them may caused by poorly organized data, but of them, I believe that the author(s) manipulated the data.

6. Enjoy. This is your life, PhD is just a piece of life's journey, not your everything! Your mental and physical health is more important. Remember that you are human, you have family, friends, social life.

Terima kasih sudah membaca.

Veterinary anatomist | School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, IPB University | Ph.D. student, Joint Graduate School of Veterinary Sciences, Tottori University, Japan

Post a Comment

Komentar atau tidak komentar tetap thank you.