For professional profile please visit my LinkedIn

Bagaimana menyikapi pengalaman pertama naskah ditolak jurnal?


Mempublikasikan artikel pada jurnal ilmiah menjadi suatu tuntutan bagi siapa saja yang berkecimpung di akademia, termasuk mahasiswa pascasarjana. Lalu, bagaimana jika naskah yang kita kirimkan ke suatu jurnal kemudian ditolak? Di dalam artikel ini saya juga akan menceritakan pengalaman pertama saya mendapatkan penolakan atau "rejection" dari sebuah jurnal. 

Mendapatkan penolakan dari sebuah jurnal merupakan suatu pengalaman emosional bagi siapa saja yang berkecimpung di dunia akademia. Mungkin kita akan merasa sangat terpukul, merasa gagal, dan kalau tidak berlebihan, rasanya seperti patah hati. Tapi saya kira hal tersebut terjadi pada pengalaman pertama atau awal-awal saja, dan tergantung di tahap mana penolakan tersebut kita alami. Naskah yang kita kirimkan ke jurnal bisa saja ditolak untuk diterbitkan sebelum atau sesudah melalui proses telaah sejawat (peer review). Untuk yang kedua, saya bayangkan efek secara emosionalnya lebih besar dibandingkan sejak awal sudah ditolak oleh editor jurnal. Untuk alasan penolakan manuskrip sebelum proses review biasanya terjadi karena beberapa faktor terkait dengan kesesuaian naskah dengan tujuan dan lingkup jurnal, ekspektasi penelitian yang diterbitkan pada jurnal tersebut, atau sebatas alasan kesesuaian format; yang sebetulnya kita semua tahu bahwa hal-hal tersebut sudah dijelaskan kepada penulis di halaman web jurnal. Sehingga, sejak awal sebelum mengirimkan manuskrip, kita harus melakukan crosscheck terhadap hal-hal tersebut, serta didiskusikan dengan tim penulis lain (termasuk pembimbing; dalam hal ini bisa juga pembimbing yang memberikan saran target jurnal yang dipilih). Cara lain, kita bisa menggunakan aplikasi perekomendasi jurnal seperti Edanz journal selector, Journal Author Name Estimator (JANE), Springer Journal Suggester, Wiley Journal Finder, atau layanan serupa dari penerbit jurnal lainnya. 

Apakah penolakan terhadap naskah kita pasti dan harus membuat kita "terpuruk"? Sebagai yang pernah mengalami penolakan, tentu saya katakan bisa dimaklumi. Namun, di saat yang sama, saya bisa bilang bahwa kita bisa mempersiapkan mental kita untuk itu. Jauh sebelum paper saya ditolak, saya sudah pernah mendapatkan ceramah tentang kemungkinan-kemungkinan yang terjadi saat kita mengirimkan naskah, termasuk penolakan, dan penolakan naskah itu merupakan suatu hal yang umum pada proses penerbitan artikel ilmiah. Dengan kita tahu bahwa penolakan adalah hal yang umum, mental kita tentu lebih siap. Saat ini, kita mudah mencari informasi tentang acceptance rate sebuah jurnal, yang digambarkan sebagai suatu persentase. Angka tersebut merupakan hitungan banyaknya naskah yang diterima untuk dipublikasikan, dibandingkan dengan banyaknya naskah yang diterima oleh editor jurnal (dikirimkan oleh penulis). Dari angka tersebut, secara tidak langsung kita tahu berapa persentase naskah yang ditolak.  Misalnya saja, Springer Journal Suggester memberikan informasi jurnal Cellular and Molecular Life Sciences memiliki acceptance rate 15%, sehingga jika kita ingin mengirimkan naskah ke jurnal tersebut, kita sudah lebih siap dengan peluang 85% ditolak (meskipun tidak semua jurnal muncul informasi ini, dan perlu diingat bahwa angka ini dinamis). 

Saat saya mendapatkan email penolakan naskah, kaget dan kecewa tentu saja, tapi masih bisa saya terima. Pasalnya, pada putaran pertama review naskah, saya mendapat beberapa komentar yang sifatnya major dari kedua reviewer, dan poin utama yang disorot adalah soal kebaruan (novelty). Ya, salah satu reviewer mempertanyakan kebaruan riset dalam naskah kami, yang dianggap tidak berbeda dengan riset sebelumnya yang ditulis peneliti lain, yang saya jadikan referensi dalam naskah saya tersebut. Setelah itu, saya susun jawaban terhadap semua poin-poin yang disororti reviewer, juga sudah saya konsultasikan dengan pembimbing. Pembimbing saya heran juga dengan komentar reviewer tersebut. Tapi tentu tidak masalah, karena telaah sejawat ini semacam forum ilmiah yang memang harus ditanggapi secara ilmiah dan baik. Namun, setelah sekitar dua minggu, reviewer memberikan komentar lagi (melalui Editor) yang intinya masih mempertanyakan dan bilang bawa seharusnya poin-poin jawaban saya (terhadap komentar reviewer) juga dimasukkan ke dalam naskah. Hal tersebut dibarengi dengan keputusan Editor untuk tidak menerima naskah kami. Saat itu, setelah mendapat email penolakan naskah, saya ceritakan kepada istri saya, hanya cerita saja. 

Bagikan pengalaman kita. Hal ini penting sebagai langkah pertama mengatasi kabar penolakan naskah kita. Sharing informasi dengan orang terdekat menjadi penting, layaknya masalah lain yang kita perlu berbagi rasa. Tentu tidak perlu ke semua orang. Bercerita itu meredakan gejolak perasaan. Esoknya, saya temui pembimbing saya, yang pada hari ketika kami mendapat email dari editor, beliau juga langsung mengirimkan pesan kepada saya yang intinya tentang "next step", langkah apa berikutnya yang kita kerjakan, termasuk saya diminta mencari/menentukan opsi jurnal lain untuk mengirimkan naskah. Sebagai yang lebih banyak pengalaman, pembimbing yang supportif perlu merespon penolakan dengan segera berkomunikasi dengan mahasiswanya, memberikan dukungan dan semangat. Setidaknya itu perspektif saya, dan saya mendapatkan semua itu. Saat itu, saya ceritakan penolakan yang saya dapat kepada rekan seruangan saya, mahasiswa PhD lain. Saya juga cerita pada dua rekan saya yang bekerja di lab berbeda (setiap tahun, jurusan kami hanya menerima maksimal 5 mahasiswa PhD, sehingga teman seangkatan itu tidak banyak). Perlu diingat, mendapat penolakan jurnal itu bukan aib, jadi tidak perlu malu, karena ini hanya salah satu proses.

Ingat bahwa kita sudah sampai pada titik ini. Mendapatkan penolakan terhadap naskah memang mengecewakan, tapi ibaratnya kita baru mencoba satu dari puluhan bahkan ratusan jurnal yang mungkin sesuai dengan naskah kita (mungkin banyak jurnal yang bahkan namanya kita belum pernah mendengar sebelumnya). Faktanya, kita sudah menyelesaikan proses panjang mulai dari munculnya gagasan dan perancangan penelitian, melewati tahap eksperimen yang mungkin tidak mudah atau bahkan beberapa kali gagal, menyelesaikan draft awal naskah, sampai kita merasa naskah sudah layak dikirimkan. Jadi jika mendapati naskah Anda ditolak oleh sebuah jurnal, ingat bahwa Anda sudah sejauh ini, dan penolakan jurnal itu tidak ada apa-apanya. Ingat-ingat lagi, apakah sudah ada self-reward untuk proses sepanjang itu? Kalau belum, saat naskah ditolak, Anda bisa pergi jalan ke mana dan jajan apa yang Anda suka, atau melakukan aktivitas yang membuat Anda merasa lebih baik, meskipun sekedar jogging atau nonton film terbaru. 

Refleksi tujuan kita dan kirim lagi naskahnya. Sekali lagi, kita perlu belajar dari pengalaman, termasuk penolakan atas naskah kita. Kita dapat melihat kembali secara cermat, komentar-komentar dari para reviewer. Naskah dapat kita perbaiki dengan mengacu pada komentar tersebut, tentunya yang memang kita rasa relevan dan penting. Poin-poin komentar dari reviewer –yang sebetulnya merupakan kritikan dari sejawat dan bagian dari masyarakat ilmiah– akan menjadi saran yang sangat bagus untuk memperbaiki naskah kita. Maka, manfaatkan kritik-kritik tersebut semaksimal mungkin. Ketika itu, meskipun awalnya merasa aneh, pembimbing saya pun meminta saya memperbaiki bagian yang dikritisi oleh reviewer, sebisa mungkin. Dalam satu sampai dua hari pasca penolakan, saya berdiskusi dengan pembimbing dan saya mencoba memetakan beberapa hal yang menjadi penyebab reviewer seperti tidak memahami apa yang kami telah jelaskan. Ada bagian yang kita perlu evaluasi diri kita, bahwa mungkin memang cara kita menjelaskan sulit dimengerti reviewer, dan hal seperti itu jelas kesalahan kita yang belum mampu menyampaikan maksud secara 'gamblang'. Sambil tetap fokus kembali ke tujuan awal kita menulis naskah tersebut, perbaikan-perbaikan kita lakukan.  Penolakan adalah tantangan, tapi kita memang harus keluar dari zona nyaman, dan siap dengan risiko-risiko seperti kritikan dari sejawat, dengan begitu, kita akan berproses dan berkembang. Di situ poin pentingnya. Setelah siap, kita bisa kirimkan naskah ke jurnal lainnya atau jurnal yang sama, mulai dari awal. Hanya saja perlu diingat, tidak semua jurnal menerima naskah yang sudah ditolak, meskipun sudah diperbaiki (setidaknya dalam kasus saya, seperti itu). Strategi umumnya, kita bisa coba kirimkan ke jurnal dengan kategori lebih rendah (quartile lebih rendah, atau impact factor lebih rendah, dsb). Tapi, tidak berarti naskah kita tidak berpeluang diterima pada jurnal dengan kategori lebih tinggi. 

Dalam kasus saya, pembimbing menyarankan saya untuk mengirimkan naskah ke jurnal dengan lingkup yang lebih spesifik dengan impact factor lebih tinggi (dan statusnya sudah diterima beberapa hari sebelum artikel blog ini terbit). Meskipun saya menyebut kategori-lebih tinggi dan lebih rendah, saya bukan termasuk orang yang peduli dengan quartile dan impact factor, karena kualitas sebuah tulisan itu tergantung kepada penulis, sehingga 'bias' jika menganggap jurnal atau penerbit sebagai penentu kualitas, tidak selalu. Saya pernah mengirimkan komentar-kritik terhadap suatu artikel di jurnal internasional yang saya temukan dengan kejanggalan yang menjurus kepada manipulasi gambar hasil. Gambar yang sama digunakan untuk merepresentasikan kelompok  perlakuan berbeda. Apakah itu tidak sengaja? Jelas sengaja, karena gambar histologis-nya dikesankan berbeda dengan cara cropping pada area jaringan yang berbeda. Tapi penulis lupa dan kurang "lihai" memanipulasi, sehingga, ada bagian gambar yang sama masih terlihat pada kedua gambar yang digunakan secara overlapping tersebut. Sayangnya, editor jurnal hanya mengklarifikasi dan meminta perbaikan gambar. Padahal, menurut saya, artikel tersebut seharusnya ditarik (retraction) mengingat pelanggaran etik yang sudah sangat jelas. 

Kembali lagi soal penolakan jurnal, selalu ada pengalaman pertama, dan suatu saat hal-hal seperti penolakan naskah ini akan menjadi suatu hal yang umum bagi kita, seiring bertambahnya pengalaman kita, baik sebagai yang ditolak naskahnya, maupun sebagai sejawat yang merekomendasikan penolakan suatu naskah yang kita telaah. Ada artikel yang ditulis dengan gaya sembrono oleh Geoff Norman (Advances in Health Science Education 2014; 19:1–5) tentang tips agar paper kita tidak diterima untuk dipublikasikan. Salah satu poin tips-nya, "More research is always required", yang intinya bukan soal riset yang banyak, tapi perlu menjawab pertanyaan dan kebutuhan, dibandingkan hanya mementingkan ego pribadi seorang peneliti. Silakan dibaca artikel  Editorial tersebut. Boleh setuju dan boleh juga tidak. Semoga bermanfaat. 
Veterinary anatomist | School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, IPB University

Post a Comment

Komentar atau tidak komentar tetap thank you.