For professional profile please visit my LinkedIn

Pembelajaran Anatomi Veteriner Berbasis Teknologi Virtual Reality

Pandemi Covid-19 nampaknya memberikan dampak tidak hanya dalam hal kesehatan dan ekonomi, tetapi hampir semua sektor, termasuk pendidikan. Pembatasan pembelajaran tatap muka selama masa pandemi tentu menjadi tantangan bagi program studi yang memiliki karakteristik dengan proporsi aktivitas praktik yang tinggi. Tidak terkecuali dalam bidang anatomi veteriner di Indonesia. 

Selama ini, pembelajaran anatomi veteriner di semua program studi kedokteran hewan yang ada di Indonesia masih menggunakan metode pembelajaran klasik, yaitu pembelajaran dengan menggunakan kadaver hewan (preparat awetan). Walaupun jenis dan jumlah kadaver yang digunakan dalam pembelajaran anatomi veteriner berbeda-beda antara perguruan tinggi yang satu dengan yang lain, menurut sepengetahuan saya, semua masih memiliki ketergantungan dengan pembelajaran langsung menggunakan preparat awetan.  Artinya jelas bahwa pembatasan kegiatan pembelajaran tatap muka sempat menjadi kendala bagi penyelenggaraan pembelajaran anatomi veteriner. Melihat fakta tersebut, saya yang sejak sebelum pandemi dimulai sudah berada di Jepang, melihat adanya suatu tantangan pembelajaran anatomi veteriner ke depan, tidak hanya dalam situasi pandemi namun juga untuk tuntutan zaman. 

Awal tahun 2020, RistrekBRIN mengadakan IDEAthon Innovation Covid-19 #InovasiIndonesia yang bertujuan untuk mencari ide-ide solutif atas imbas pandemi Covid-19 di berbagai sektor. Bersama rekan saya, Mas Auzi Asfarian, saya sampaikan ide sistem pembelajaran anatomi hewan berbasis virtual reality. Bukan tanpa alasan, saya mengenal Mas Auzi sebagai dosen di Departemen Ilmu Komputer IPB yang akrab dengan hal seputar virtual reality (VR), augmented reality (AR), dan teknologi-teknologi terkait. Dengan segala keterbatasan, saya berkomunikasi secara virtual dengan Mas Auzi yang saat itu berada di Indonesia. Kami mencoba menyusun usulan ke IDEAthon Innovation Covid-19 tersebut. Meskipun belum menjadi prioritas alias belum terpilih sebagai penerima hibah, tetapi ide tersebut tetap relevan bagi pengembangan pendidikan kedokteran hewan, khususnya bidang anatomi veteriner. 

Program berbasis virtual reality dalam bidang kedokteran maupun kedokteran hewan tentunya bukan ide baru di dunia. Beberapa institusi baik perguruan tinggi maupun swasta sudah ada yang mengembangkan di luar negeri sebagai metode yang lebih maju dibandingkan inovasi model grafis 3D yang sudah muncul jauh sebelum teknologi VR ada. Hanya saja, di Indonesia, hal tersebut masih belum dikembangkan. Sempat juga saya mendengar informasi rencana kolaboratif pengembangan sistem pembelajaran virtual (dengan grafis) antara Asosiasi Fakultas Kedokteran Hewan Indonesia (AFKHI) dengan mitra di Malaysia (Universiti Putra Malaysia, kalau tidak salah). Namun, tindak lanjutnya juga kelihatannya belum ada. Memang metode kadaver sebagai metode klasik masih menjadi gold standard dalam pembelajaran anatomi, karena meliputi aktivitas motorik yang membantu berkembangnya pemahaman dan kemampuan kognitif. Akan tetapi, saya menganggap perlu adanya -setidaknya bisa kita katakan- metode alternatif yang mampu menjembatani berbagai keterbatasan. Melalui metode kadaver, tentu saja mahasiswa tidak dapat mengakses preparat awetan hewan setiap saat, apalagi di masa pembatasan pembelajaran tatap muka beberapa waktu yang lalu. 

Ketergantungan akan metode kadaver tidak hanya di Indonesia, di Jepang, setidaknya di tempat saya studi saat ini, Tottori University, pada saat Jepang memberlakukan status darurat Covid-19, pembelajaran tatap muka, termasuk untuk kelas praktikum anatomi veteriner dihentikan dan ditiadakan selama beberapa bulan. Beruntungnya, setelah itu situasi membaik dan sisa waktu dalam semester yang sama diatur hanya untuk kegiatan praktikum (kegiatan perkuliahan dari awal tetap berjalan secara daring). Dalam satu minggu, ada 3 kali pertemuan praktikum anatomi veteriner, mulai dari jam pertama (pukul 08:45) sampai jam terakhir (18:00) setiap harinya. Di Indonesia, yang saya tahu dari para senior saya di IPB, aktivitas praktikum juga dilaksanakan secara daring dengan materi pembelajaran berupa video dan sebagainya. Hingga saat ini, kegiatan belajar mengajar khususnya untuk mata kuliah anatomi veteriner berlangsung dengan kombinasi daring dan luring, tentunya dengan pemberlakuan protokol kesehatan ketat. 

Awal tahun ini, saya dan beberapa kolega lainnya menyusun artikel ilmiah singkat yang membahas tentang sistem pembelajaran anatomi berbasis VR sebagai peluang bagi pendidikan kedokteran hewan ke depan. Melihat dari aspek pedagogi, teknologi VR ini memiliki manfaat yang menunjukkan potensi sebagai alternatif media belajar. Setidaknya kami merangkum tiga hal penting terkait implementasi teknologi VR dalam pendidikan kedokteran hewan (Cahyadi et al. 2022), yakni aspek materi dan teori pembelajaran, pertimbangan perangkat pendukung aplikasi VR, serta biaya yang dibutuhkan untuk membangun sistem, termasuk biaya akan aset digital yang perlu disiapkan paling awal. Bagi yang berminat, bisa membaca tulisan kami yang diterbitkan dalam ARSHI Veterinary Letters Volume 6 No. 1 (2022). Semoga bermanfaat. 

sumber: Cahyadi et al. (2022


Sumber: 
Cahyadi DD, Asfarian A, Nurhidayat, Nisa' C, Supratikno, Novelina S, Setijanto H, Agungpriyono S. 2022. Virtual reality-based animal anatomy model: a new possible approach for veterinary education in Indonesia. ARSHI Veterinary Letters 6(1):11-12. DOI:10.29244/avl.6.1.11-12.
Dokter hewan. Veterinary Anatomist. Blog menjadi media tulis selain kertas dan aplikasi pengolah teks.

Post a Comment

Komentar atau tidak komentar tetap thank you.