For professional profile please visit my LinkedIn

Tinggal di Jepang: Harus Bisa Bahasa Jepang?

Salah satu pertanyaan yang umum saya dapat dari teman dan atau keluarga adalah terkait komunikasi selama di Jepang. Kebanyakan mengira bahwa kalau kuliah di Jepang, tentu harus bisa berbahasa Jepang. Jika ada pertanyaan apakah harus pandai berbahasa Jepang? jawabannya bisa iya, bisa juga tidak. Kenapa bisa begitu? Jawabannya adalah karena sangat tergantung program pendidikan yang diikuti. Bagi mahasiswa asing yang mengikuti program sarjana di Jepang, umumnya dituntut lancar dalam berkomunikasi menggunakan Bahasa Jepang, baik lisan maupun tulisan, karena seluruh aktivitas perkuliahan menggunakan Bahasa Jepang. Tentu ada pengecualian bagi mahasiswa yang mengikuti program kelas internasional dengan bahasa pengantar Bahasa Inggris.  

Lain halnya dengan program pascasarjana, baik program master maupun doktoral yang setahu saya sudah umum dengan program berbahasa pengantar Bahasa Inggris, atau campur antara Bahasa Jepang dan Bahasa Inggris. Di dalam program yang saya ikuti, secara umum perkuliahan yang tidak begitu banyak diselenggarakan dalam Bahasa Inggris. Aktivitas sehari-hari lebih banyak dihabiskan di laboratorium, diskusi, dan belajar mandiri.

Namun, tentu saja ada tantangan dalam berkomunikasi di luar lingkungan laboratorium atau kampus. Meskipun selama kurang lebih tiga semester saya mengikuti kelas bahasa, berkomunikasi menggunakan Bahasa Jepang masih tetap menjadi kendala bagi saya. Memang jika sudah kepepet, selalu ada momen kita dipaksa bisa, atau kalau boleh saya bilang sebisanya. Saya ingat ketika pertama kali memberanikan diri memesan taksi via telepon, pertama kali mengirimkan paket lewat kantor pos, pertama kali mengurus kartu my number sekeluarga, datang ke sesi tanya-jawab terkait pendaftaran sekolah anak dan lainnya. Selalu ada pengalaman pertama, yang saya lakukan setelah banyak pengalaman sebelumnya dibantu oleh teman, staf kantor urusan internasional kampus, maupun penerjemah. 

Alhamdulillah, untuk hal-hal yang membutuhkan banyak komunikasi lisan, belakangan, kami juga banyak dibantu oleh warga Indonesia yang tinggal di Tottori. Selain itu, selama ini kami sangat terbantu dengan adanya layanan penerjemah dari yayasan di bawah pemerintah prefektur, Tottori Prefectural International Exchange Foundation (TPIEF). Selain membuka kelas Bahasa Jepang serta banyak program lainnya, TPIEF juga menyediakan bantuan interpreter sukarelawan bagi warga negara asing yang tinggal di wilayah Tottori. Informasi lengkapnya bisa dilihat di sini. Hanya saja, selama masa pandemi, kebijakan penyediaan interpreter sedikit berbeda, menyesuaikan perkembangan kasus COVID-19. Terakhir, saat dihubungi, penanggung jawab interpreter menyampaikan bahwa layanan dapat dilakukan melalui sambungan video call, untuk kenyamanan dan keamanan bersama. Selama ini kami mengajukan layanan interpreter untuk keperluan pemeriksaan kesehatan di klinik, vaksinasi anak klinik, keperluan administrasi rumah sakit, serta pendaftaran sekolah anak.  

Meskipun tidak tahu pastinya, tapi saya yakin di kota maupun prefektur lain di Jepang juga terdapat lembaga yang memberikan bantuan atau pendampingan bagi warga negara asing. Intinya, bahasa memang menjadi salah satu tantangan tinggal di Jepang, tetapi jika tidak pandai berkomunikasi dalam Bahasa Jepang, ada banyak solusi yang bisa diusahakan. Ada banyak orang yang bisa dan mau memberikan bantuan jika memang kita memerlukan. Perlu dipahami, bahwa tulisan ini subyektif dari sudut pandang seorang mahasiswa asing yang tidak dituntut fasih berbahasa Jepang. Namun, menguasai bahasa setempat di mana kita tinggal tentu jauh lebih baik. Sekian, semoga bermanfaat. 
Veterinary anatomist | School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, IPB University

4 comments

  1. Yang menambah sulit bagi saya adalah Bahasa Jepang itu tidak hanya tata bahasanya saja, tapi juga aksaranya. Bahasa Inggris jadi lebih gampang karena aksaranya sama dengan yang kita pakai.

    Thanks for sharing mas. Kapan ya saya nyusul kesana?
    1. Iya Mas Arif, belajar aksara baru memang ga gampang, terutama bagi saya. Terima kasih sudah mampir mas. Ayo mas, sudah mulai dibuka untuk pelajar.
  2. Dok Danang mau bertanya, kalau untuk mendaftar program master, apakah harus punya sertifikat JLPT?
    1. Untuk jurusan kedokteran, termasuk kedokteran hewan/veterinary science/medicine, di Jepang tidak ada program master, kecuali ingin ke prodi lain yang mgkin masih terkait juga. Dan program master banyak jg yg sudah menawarkan program berbahasa Inggris. Jadi, JLPT setahu saya tidak perlu.
Komentar atau tidak komentar tetap thank you.