Praktik Lapang Manajemen Reproduksi

Selama seminggu kemarin, saya dan 3 orang teman satu kelompok melakukan praktik lapang manajemen reproduksi di Indocaprina, Cipanas, yang bergerak di komoditi kambing-domba. Direktur Indocaprina sendiri merupakan senior kami, yaitu drh. Brian Koesoema Adhie. Selama di Cipanas, kami belajar banyak hal, yang dirincikan dalam 8 target magang, yaitu tata laksana pembibitan, pakan, kandang, penyakit, reproduksi, produksi, recording, dan analisis usaha, cukup banyak untuk diceritakan. Kegiatan yang dilakukan antara lain sanitasi kandang, pemerahan susu (khusus untuk kambing peranakan Ettawa), pengobatan, pemeriksaan kebuntingan, perawatan anak kambing yang baru lahir, pembuatan yoghurt-keju-eskrim dari susu, serta ear tattoing untuk bibit.

Kambing Boer. Perawatan induk postpartus (kiri) dan membantu anak untuk menyusu kepada induknya (kanan)

Manajemen reproduksi bertujuan untuk keberhasilan reproduksi itu sendiri, yaitu memperbanyak keturunan dengan kualitas lebih baik serta meningkatkan produksi (contoh kambing perah). Untuk mencapai tujuan tersebut, performance kambing harus memiliki konformitas ekstremitas yang baik, tidak bengkok, mata yang bersinar, tinggi yang sesuai standar minimal, bentuk dada persegi (pada pejantan), tumit yang tinggi, serta bentuk dan jumlah ambing (pada betina). Selain itu, berbicara reproduksi, kita juga harus tau informasi-informasi penting terkait reproduksi kambing, misalnya tanda-tanda birahi kambing betina. Umur dewasa kelamin kambing yaitu 6-8 bulan pada betina dan 8-12 bulan pada jantan, sedangkan dewasa tubuh terjadi pada umur 4-5 bulan setelah dewasa kelamin. Bobot badan kambing yang sudah dewasa tubuh yang baik adalah di atas 25 kg. Siklus birahi kambing terjadi selama 14-20 hari dan domba 16-17 hari, dengan lama birahi sekitar 24-42 jam. Calving interval pada kambing adalah 8 bulan dan masa sapih sekitar 3 bulan.

Ear tattoing, dilakukan pada kambing bibit supaya tidak merusak seperti pada ear tagging. Foto: Danang D. Cahyadi


Setelah hampir seminggu praktik lapang di Cipanas, jumat (13/07) kemarin, kami diberi kesempatan oleh drh. Brian untuk terjun ke lapangan di Desa Sukadana, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Perjalanan sekitar 50 km menuju lokasi kami tempuh menggunakan sepeda motor, melalui jalur Cipanas-Warungkondang-Cibeber-Campaka. Kondisi jalan cukup baik sampai di jalan raya Cibeber, kemudian dilanjutkan dengan 5 km track berbatu sampai ke desa Sukadana. Rasa lelah menempuh perjalanan terhapus setelah kami mulai melihat pemandangan kebun teh di wilayah tersebut, dan akhirnya kami singgah di rumah Pak Karmawan, kepala desa setempat. 

Pagi-pagi kami sudah disuguhi secangkir teh hijau buatan istri Pak Karmawan, nikmat rasanya, meskipun tanpa gula, harum dan sedap daun tehnya menyegarkan. Memang desa Sukadana menjadi desa teladan dan pernah menjadi juara gabungan kelompok tani (Gapoktan) untuk komoditi teh di tingkat nasional. "Oleh PTPN, teh dari sini dibeli dengan harga lebih tinggi dibandingkan teh dari sekitar pabrik, ya karena tehnya lebih bagus katanya", tutur Pak Karmawan. 

Sistem pertanian yang dijalankan di Desa Sukadana memang bukan tanpa ilmu, terbukti dengan dikembangkannya konsep agrosilvopastoral, dengan mengintegrasikan tanaman pangan, hortikultura, pohon, dan ternak. Kombinasi kambing-domba (pasture/animals) dengan tanaman jeruk, teh,  kopi, kayu abasia, dan lainnya dikembangkan secara terintegrasi. 

Seusai sarapan, kami langsung bersiap menuju kandang kambing dan domba untuk melakukan pemeriksaan kesehatan dan kebuntingan. Ada sekitar 100 ekor kambing dan domba di kandang yang kami datangi, lumayan untuk mengasah keterampilan di lapangan. Umumnya, peternak ingin mengetahui apakah kambing dan dombanya hamil atau tidak setelah dikawinkan sebelumnya. 

Deteksi kebuntingan dengan Ultrasonic Pregnancy Detector. Foto: Danang D. Cahyadi
Pemeriksaan kebuntingan, selain kami lakukan dengan cara palpasi superficial maupun profundal, juga kami lakukan menggunakan alat Ultrasonic Pregnancy Detector, semacam ultrasonografi (USG) akan tetapi echo yang dikembalikan tidak ditampilkan dalam bentuk visual gambar (grafis) akan tetapi berupa suara (tone). Prinsip kerja dari alat ini hampir sama dengan USG, yaitu apabila probe menembus suatu jaringan akan mengeluarkan gelombang suara (pulse), dengan catatan bagian probe diberi bahan penghantar gelombang, misalnya gel atau minyak. Gelombang suara yang keluar akan terdengar terputus-putus (interrupted), dan apabila mengenai cairan amnion (mengandung elektroda) di dalam uterus akan dipantulkan kembali (echo) dan diterjemahkan dalam bentuk suara kontinyu. 

Selesai melakukan  kegiatan di kandang, kami melakukan perjalanan menuju situs megalithikum Gunung Padang. Cerita selengkapnya akan saya tulis pada postingan selanjutnya "Menyusur Peninggalan Budaya Situs Megalith Gunung Padang"
Dokter hewan. Dosen. Blog menjadi media tulis selain kertas dan aplikasi pengolah teks.

1 comment

  1. Permisi mas,
    aq mau nanya nih. .

    Knapa sih dulu mas milih IPB?

    Sorry kalo agak ga nyambung sama posting.ny . .tapi aq lagi butuh tempat sharing nih. .makasih,:)
Komentar atau tidak komentar tetap thank you.