Waspada Bahaya Zoonosis Bersumber Satwa Liar

Anda seorang pecinta satwa liar? Apakah Anda memelihara satu atau berbagai jenis satwa liar? Saatnya mengetahui risiko yang mengintai diri Anda. Ya, banyak satwa liar yang memiliki penampilan menarik serta lucu, sehingga banyak kalangan memelihara satwa liar untuk kepentingan hobi, bahkan untuk alasan prestige. Akan tetapi, sebenarnya ada banyak risiko yang mungkin terjadi akibat memelihara satwa liar. 

Apa Risiko Memelihara Satwa Liar?
Pertama, memelihara satwa liar yang dilindungi jelas bertentangan dengan hukum di negara kita, apalagi jika memperjualbelikan satwa liar dilindungi secara ilegal, baik perdagangan secara ilegal di pasar-pasar hewan maupun perdagangan melalui internet, ada sanksi hukum terhadap tindakan tersebut. Kedua, meskipun terlihat lucu dan menarik, satwa liar adalah binatang yang memiliki sifat liar. Beberapa jenis satwa liar dapat menyerang Anda walaupun sudah dianggap seperti hewan kesayangan. Sesuai dengan definisinya, satwa liar menurut UU No.18 Tahun 2009, yaitu semua binatang yang hidup di darat, air, dan/atau udara yang masih mempunyai sifat liar, baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia. Sehingga, dengan sifat alamiahnya yang liar, satwa liar selalu berpotensi menunjukkan sifat alamiah tersebut. Tidak sedikit laporan mengenai kasus penyerangan terhadap manusia oleh satwa liar, bahkan satwa liar yang sudah lama dipelihara sekalipun. Ketiga, adanya risiko penularan zoonosis dari satwa ke manusia. Anda mungkin tidak sadar, bahwa bisa saja satwa liar yang Anda pelihara merupakan satwa pembawa zoonosis, yaitu penyakit yang menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Risiko ini merupakan risiko yang paling berbahaya dari segi kesehatan masyarakat. 

Mengapa Risiko Zoonosis Perlu Kita Waspadai?
Isu zoonosis saat ini harus menjadi milik masyarakat luas, bukan sebatas konsumsi kalangan medis (dokter dan dokter hewan). Mengapa? Karena masyarakat lah yang memiliki  peranan dasar dalam antisipasi munculnya zoonosis. Satu hal penting yang harus kita sadari, di balik aturan yang dibuat untuk mencegah perdagangan satwa liar secara ilegal, baik dalam negeri maupun internasional, adalah untuk mencegah risiko penyebaran dan penularan zoonosis dari satu daerah ke daerah lain. 

Minggu (25/09/2011) lalu, saya mengikuti seminar nasional yang ada kaitannya dengan tulisan di atas. Dalam Seminar Nasional "Peran Medis Konservasi dalam Zoonosis Bersumber Orangutan" yang diselenggarakan oleh Himpunan Minat Profesi Satwaliar Fakultas Kedokteran Hewan IPB,  Prof. Dr. drh. Dondin Sajuthi menyampaikan bahwa Orangutan memiliki kemiripan secara fisiologis dan genetis sehingga penyakit yang berpotensi menular antara manusia dan Orangutan lebih banyak. Selain Prof. Dondin, seminar yang diselenggarakan di Auditorium Sumardi Sastrakusumah FPIK IPB tersebut turut mengundang Prof. Saleha Sungkar (FK UI) dan drh. Indra Exploitasia Semiawan (TN Gunung Gede Pangrango) sebagai narasumber, serta keynote speech oleh Prof. Dr. drh. I Wayan Teguh Wibawan, MS (Dekan FKH IPB).

Menurut penelitian terakhir, dari sekian banyak penyakit menular (zoonosis), sebanyak 75% adalah bersumber satwa liar. Hal tersebut juga diungkapkan oleh drh. R.P. Agus Lelana, Sp.MP, MSi yang turut hadir dalam seminar tersebut. Penyakit seperti rabies, salmonellosis, tuberculosis, influenza, hepatitis, scabies, leptospirosis, malaria, dan filariasis merupakan beberapa contoh penyakit menular diantara sekian banyak penyakit menular bersumber satwa liar. Kampanye untuk mencegah penyebaran zoonosis bersumber satwa liar sudah banyak dilakukan baik melalui seminar, aksi simpatik, sosialisasi langsung di masyarakat, atau dengan memanfaatkan teknologi internet melalui jejaring sosial facebook dan twitter.

Jika Anda memang pecinta binatang, hobi tersebut bisa Anda salurkan dengan memelihara hewan peliharaan yang umum dan bukan satwa liar seperti kucing, anjing, kelinci, atau hamster. Namun, bukan berarti bahaya zoonosis tidak ada, karena risiko tersebut tetap mengintai Anda. Sehingga ada baiknya hewan peliharaan dirawat dengan baik dan diperiksakan kesehatannya kepada dokter hewan.

Dokter hewan. Dosen. Blog menjadi media tulis selain kertas dan aplikasi pengolah teks.

Post a Comment

Komentar atau tidak komentar tetap thank you.