Kilas Balik: Ramadhan 1442H di Tottori, Jepang

Assalamu'alaikum! Kurang dari sebulan umat muslim sedunia akan bertemu kembali dengan bulan mulia, bulan ramadhan. Tentunya ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi umat muslim, karena mulianya ramadhan biasanya dibarengi dengan ramainya aktivitas baik yang langsung terkait dengan ibadah maupun hal-hal yang sifatnya pelengkap saja. Meskipun belum memasuki bulan ramadhan, saya sedikit ingin flashback ke ramadhan tahun sebelumnya, 1442H, yang merupakan tahun kedua saya melewati ramadhan di Tottori, sebuah kota kecil yang berada di Jepang bagian barat. 

Meskipun kota kecil, alhamdulillah ada komunitas muslim di Tottori, terdiri dari para pendatang dari berbagai negara: Sudan, Malaysia, Mesir, Nigeria, Palestina, Pakistan, Afghanistan, dan tentu saja Indonesia. Selain itu, yang patut kami semua syukuri adalah adanya Tottori Masjid. Sejak awal menginjakkan kaki di Tottori, saya sangat bersyukur karena di dekat kampus ada masjid, sekaligus di Gedung Fakultas Regional Sciences juga ada mushala. Memang bukan masjid yang megah seperti gambaran masjid di Indonesia atau di kota-kota besar Jepang lainnya, tapi hakikatnya masjid adalah tempat sujud, arsitektur bangunan dan ornamen hanya bagian dari pelengkapnya saja yang biasanya dipengaruhi oleh budaya, tidak masalah. 

Bangunan Masjid Tottori di Prefektur Tottori, Jepang

Kembali lagi ke ramadhan 1442H tahun     lalu, tahun kedua dunia dilanda pandemi COVID-19. Sejak ramadhan 1441H, aktivitas ramadhan di masjid seperti shalat tarawih dibatasi, kala itu Jepang mengeluarkan status darurat untuk seluruh kawasan terkait pandemi sehingga Ta'mir Masjid Tottori memutuskan tidak melaksanakan shalat tarawih berjamaah di masjid, sesuai instruksi umum terkait pengendalian pandemi dari Pemerintah Jepang. Saya ingat, keputusan dilaksanakan shalat tarawih berjamaah di masjid baru ada untuk 6 hari terakhir ramadhan, ketika status darurat sudah dicabut saat itu. Alhamdulillah.

Tahun berikutnya, ramadhan 1442H, masih dalam suasana pandemi, tetapi alhamdulillah bisa melaksanakan shalat tarawih berjamaah di masjid, di saat banyak muslim di belahan dunia termasuk Indonesia membatasi aktivitas shalat tarawih di masjid, termasuk di Indonesia. Di Tottori, karena sebagian besar muslim yang tinggal di wilayah sekitar masjid adalah mahasiswa, terkadang harus membagi waktu dengan aktivitas di kampus yang kadang sampai malam. Sebagai mahasiswa, memang harus berusaha mengatur waktu penelitian sedemikian rupa, sehingga pada saat maghrib dapat menyegerakan berbuka puasa dan shalat maghrib. Tidak seperti di Indonesia dan mungkin negara-negara berpenduduk mayoritas muslim lainnya, tentu di Jepang tidak ada pasar ramadhan dan sejenisnya, di mana kita bisa menemukan dan membeli hidangan untuk berbuka puasa. Tidak ada pula kemeriahan pesantren ramadhan bagi anak-anak. Tapi tanpa itu semua ramadhan tetap membawa kemuliaan yang sangat dinantikan oleh umat muslim sedunia. 

Saya dengar dari Dr. Hassan, seorang peneliti postdoctoral dari Mesir, dan beberapa orang yang sudah cukup lama tinggal di Tottori, bahwa tahun-tahun sebelum pandemi, rutin diadakan ifthar jama'i di gedung Tottori International Plasa. Dalam acara tersebut, muslim dari berbagai negara akan menyiapkan menu berbuka puasa, sehingga juga menjadi ajang pertukaran masakan antarnegara. Bahkan, beberapa masyarakat Jepang di wilayah sekitar juga diundang untuk bisa mengikuti kegiatan makan bersama tersebut, yang menurut saya juga bisa menjadi sarana syiar seputar Islam. Hayashi Sensei, guru bahasa Jepang saya, juga pernah bercerita bahwa dulu beliau diundang jika ada kegiatan berbuka puasa bersama komunitas muslim Tottori. 

Ramadhan tahun lalu tidak ada ifthar jama'i seperti sebelumnya. Akan tetapi, beberapa teman menginisiasi diselenggarakan ifthar jama'i meskipun untuk jamaah yang memang berkesempatan. Menu buka puasa tahun lalu, tergantung apa yang disiapkan oleh siapa, tidak ada jadwal khusus siapa yang menyediakan, sifatnya sukarela saja, dan beberapa kali masak bersama di masjid. Saya pribadi senang bisa mengikuti kegiatan makan bersama, seperti ifthar jama'i, karena saya meyakini ada keberkahan di dalamnya - dan memang begitu adanya sesuai yang dicontohkan dan disabdakan Rasulullah Sallallahu'alaihi wasallam. Semoga kita semua masih bisa dipertemukan ramadhan tahun ini (1443H) yang jaraknya tinggal menghitung hari. 

Dokter hewan. Dosen. Blog menjadi media tulis selain kertas dan aplikasi pengolah teks.

Post a Comment

Komentar atau tidak komentar tetap thank you.