Suara Radikal Anti-Covid yang Kini Perlahan Sunyi

Hampir dua tahun sejak munculnya SARS-CoV2 dilaporkan di Wuhan, dunia masih belum selesai berjuang menghadapi pandemi. Tapi yang bisa kita semua syukuri adalah penurunan jumlah kasus dan tingkat kematian, tidak hanya di Indonesia melainkan di berbagai belahan dunia. Sejak awal munculnya kasus dilaporkan di berbagai media, saya yang saat itu baru sekitar 3 bulan di Jepang, agak khawatir mengingat dekatnya Jepang dan Cina secara geografis. Apalagi kala itu, Jepang termasuk yang tidak secara cepat membatasi akses masuk dari negara lain, ini bukan menurut saya saja tetapi menurut banyak pengamat.

Kita yang belajar, tentu bisa memahami bagaimana suatu penyakit dapat tersebar ke daerah lain meskipun memiliki batas geografis. Seiring dengan kondisi yang mulai membaik, ada banyak hal yang bisa kita jadikan pembelajaran ke depan, bagi siapapun. Saya ingin menggarisbawahi bagaimana simpang-siur informasi yang diterima masyarakat terkait dengan virus maupun penyakit yang pada akhirnya dinyatakan sebagai pandemi ini. Tentu saja tulisan ini bukan karena saya punya latar belakang sebagai pakar penyakit infeksius atau virus, melainkan sebagai orang yang ada di lingkungan akademis, yang terbiasa dituntut berpikir secara logis dan ilmiah. 

Kita semua masih ingat bagaimana publik seakan terbagi (setidaknya) dua kelompok, antara yang meyakini bahwa Covid-19 ini benar adanya, serta kelompok lain yang menganggap Covid-19 ini tidak nyata dan hanya merupakan propaganda politik level dunia. Tidak hanya itu, perdebatan juga muncul dari kalangan dokter dan dokter hewan. Jumlahnya tidak banyak memang kalau saya amati, sangat sedikit, tapi peran media sosial membuat pengaruh yang dahsyat bagi kalangan awam. Khususnya pihak yang mengingkari fakta keberadaan virus/penyakit Covid-19 atau sedikit 'menyepelekan' penyakit ini. Hal ini diperparah dengan publik figur yang juga turut memperkeruh kondisi.

Saya tidak tertarik masuk ke ranah politik bahkan konspirasi. Tetapi secara ilmiah, memang faktanya ada suatu virus dan penyakit yang mengancam. Hal ini yang seharusnya kita ikuti bersama, oleh semuanya, perkembangannya seperti apa, difokuskan ke arah sana. Salah satu kesalahan argumen yang muncul adalah bahwa virus yang pada akhirnya dinamai SARS-CoV2 ini tidak seganas dan semengerikan seperti apa yang disiarkan pemerintah atau klaim dari para ilmuwan. Menggunakan pengetahuan yang didapatkan dari fakta sebelumnya, kemudian merangkumnya sebagai argumen 'melawan' klaim terbaru adalah suatu kesalahan, ternyata. Bagaimana mungkin kita tahu bahwa virus dan agen patogen penyebab penyakit mungkin saja bermutasi serta memunculkan karakter baru, dengan mudahnya menyatakan bahwa klaim baru adalah suatu kebohongan, hiperbolis. Dalam dunia ilmiah, fakta baru bisa muncul sebagai suatu hal yang baru, atau muncul menggantikan fakta sebelumnya. Narasi dan argumen yang meyakinkan, belum tentu benar.

Belum lagi ada pihak yang bersuara bahwa Covid-19 ini adalah suatu rekayasa bisnis layanan kesehatan atau rumah sakit. Rumah sakit dan fasilitas kesehatan memang memberikan layanan jasa terkait kesehatan, yang tidak dipungkiri ada sisi bisnisnya, tapi sangat tidak pas jika adanya Covid-19 ini dianggap sebagai rekayasa dan merupakan bagian dari bisnis. Sampai ada polemik bahwa masyarakat yang sakit dan dirawat di rumah sakit, lalu meninggal, sengaja didiagnosa meninggal karena Covid-19,  istilah awamnya di-covid-kan.  Cerita seperti ini bisa kita lihat di postingan atau kolom-kolom komentar berbagai media sosial sejak 1.5~2 tahun terakhir. Klaim-klaim dari figur-figur tertentu juga muncul di berbagai media sosial, popularitasnya melejit di dunia maya. Beberapa figur yang populer di media sosial pun (mohon maaf saya tidak ingat persis namanya) juga melontarkan banyak kalimat-kalimat provokatif bahkan membodoh-bodohkan orang lain, menganggap orang lain pengecut dan seterusnya. Apakah kepopuleran di dunia maya tersebut seiring dengan pengakuan masyarakat ilmiah? Jawabannya tentu tidak. Kebenaran memang tidak dimonopoli oleh tutur kata yang baik, tidak pula harus melekat pada sifat yang santun. Satu ditambah satu, jawaban "dua" dari pakar matematika maupun maling negara sama-sama benar, karena kebenaran itu mutlak sifatnya. Namun, kebenaran perlu pengakuan secara ilmiah yang bukan sekedar klaim yang disiarkan melalui media sosial. 

Grafik trend kasus Covid-19 di Indonesia (www.graphics.reuters.com)

Pandemi memang musibah, tapi dibalik durasi yang hampir dua tahun ini, setelah sekitar 4.23 juta kasus yang ada, setelah lebih dari 140.000 jiwa meninggal (ourworldindata.org),  terdapat suatu hikmah yakni tumbangnya percaya diri berlebihan bahwa Covid-19 ini adalah suatu rekayasa atau isu belaka.  Waktu sudah membuktikan, bahwa klaim-klaim kaum anti-Covid itu lebih banyak keliru. Alhamdulillah jumlah kasus dan angka kematian sudah menurun, begitu pula dengan suara radikal anti-Covid yang kini tidak senyaring saat awal masa pandemi. Terpenting, adalah semua pihak harus belajar dari kesalahan lebih percaya pada klaim-klaim tidak berdasar. Semua elemen, bukan hanya saya batasi pada kelompok masyarakat awam, melainkan siapa saja termasuk pejabat pemerintah yang sering pidato, atau diwawancarai oleh media, yang suka mengeluarkan pernyataan tanpa dasar atau tidak penting terkait kasus Covid-19. Pernyataan seperti apa contohnya? Misalnya (kalimatnya tidak sama persis), virus corona tidak tahan dengan cuaca di Indonesiacorona tidak akan masuk Indonesia karena perizinan di Indonesia yang berbelit-belit; corona tidak akan masuk Indonesia karena setiap hari kita makan nasi kucing; ditambah lagi ....bisa ditangkal dengan minum susu kuda liar.  Pernyataan-pernyataan tersebut mungkin sebagian hanya guyon, tapi faktanya memang yang bersuara bukan yang memiliki kapasitas, selain memang pernyataan-pernyataan tersebut tidak penting. 

Dokter hewan. Dosen. Blog menjadi media tulis selain kertas dan aplikasi pengolah teks.

Post a Comment

Komentar atau tidak komentar tetap thank you.