Jelajah Budaya (Cultural Trekking) ke Baduy Dalam

Akhir minggu sekaligus akhir bulan ini saya akhiri dengan posting mengenai oleh-oleh perjalanan dari peradaban masyarakat Baduy Dalam. Selama 2 hari kemarin, saya turut serta dalam kegiatan Wisata Budaya Baduy Dalam, bersama komunitas Backpacker Indonesia. Forum Backpacker Indonesia memang merupakan forum yang saya ikuti di dunia maya, dan sama halnya dengan kegiatan kopdar (kopi darat, -red) oleh komunitas blogger, kegiatan seperti ini menjadi sarana bertemu dan bertatap muka.

Jumat sore saya dan rombongan dari Bogor berangkat menuju Tanah Abang, bermalam di rumah salah satu kerabatnya Mbak Ninis, untuk kemudian, keesokan harinya tinggal jalan kaki menuju St. Tanah Abang. Ya, memperpendek jarak tempuh antara tempat asal dengan lokasi meeting point. Hal ini tentu saja untuk menghindari kemungkinan keterlambatan apabila berangkat sabtu pagi dari Bogor.

Berkumpul di meeting point, kami lanjutkan dengan perjalanan menuju Rangkas melalui jalur darat (jalur udara dan laut saya pikir hanya membuang waktu dan biaya, hehe) menggunakan kereta, dan turun di St. Rangkasbitung, lanjut ke Terminal Ciboleger. Waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB, kami istirahat sejenak. Berangkat dari Ciboleger mulai pukul 13.00 WIB, dipandu oleh salah seorang warga Baduy Dalam, kami mulai trekking menuju perkampungan Baduy Dalam, yaitu Kampung Cibeo, satu dari tiga kampung di Desa Kanekes yang merupakan tempat tinggal masyarakat adat Baduy Dalam (kampung lain yang menjadi pemukiman Baduy Dalam adalah Cikeusik dan Cikartawana, -red).

Untuk menuju Perkampungan Baduy Dalam, pengunjung harus melewati beberapa perkampungan Baduy Luar dengan jalur yang penuh dengan tanjakan curam. Itu alasan mengapa jelajah budaya ke Baduy Dalam menjadi salah satu pilihan bagi traveller yang suka dengan extreme travelling, karena kita harus menghadapi trek yang tidak biasa, melintasi perbukitan dan lembah, dengan pemandangan yang indah tentunya. Oleh karena itu, perjalanan menuju Badui dalam perlu mempertimbangkan musim atau cuaca terakhir. Pasalnya, pemandangan perbukitan dan lembah yang kita temui selama trekking akan terlihat indah apabila cuaca cerah. Apabila kesulitan dalam menjelajah jalur, ada porter dari masyarakat Baduy yang siap membantu memikul bawaan kita. Untuk mendapatkan jasa tersebut, pengunjung cukup merogoh kocek sebesar kurang lebih 50 ribu rupiah untuk sekali perjalanan.

Langsung ke inti cerita, setelah kurang lebih 5 jam trekking dan melewati banyak pemukiman adat Baduy Luar, nampak dari kejauhan bangunan kayu sederhana dengan bentuk seragam, bernama "Leuit", yang merupakan lumbung padi bagi masyarakat Baduy. Rumah kayu berdinding anyaman bambu, dengan atap dari anyaman daun kelapa, serta  tidak memiliki jendela, menjadi ciri khas rumah di pemukiman adat Baduy. Yey! Kami sampai di Kampung Cibeo.

'Porter' yang siap membantu para pengunjung.


"Leuit" - lumbung padi masyarakat Baduy, wujud swasembada pangan.


Di balik bukit dan hutan yang tenang, di sebuah bukit di Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten, Sabtu (29/06) sore, surya senja berangsur-angsur kembali ke peraduan. Terlihat beberapa orang laki-laki, berbaju putih, tampak menyusuri jalan keluar masuk Kampung Cibeo. Pakaian yang ia gunakan merupakan ciri khas pakaian masyarakat adat Baduy Dalam, sedangkan pakaian warna hitam menjadi kekhasan bagi masyarakat Baduy Luar, yang tinggal di 56 kampung lain di Desa Kanekes.

Masyarakat Baduy -atau mereka menyebut dirinya dengan 'urang Kanekes'- mempercayai bahwa mereka merupakan keturunan dari Batara Cikal (salah satu dari tujuh Dewa yang diutus ke bumi, Batara atau Bathara artinya Dewa). Asal usul tersebut sering dikaitkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama, makanya kalau orang Baduy ditanya asal-usul mereka, mereka menjawab bahwa mereka keturunan Nabi Adam, ya tidak salah.  Menurut beberapa literatur, orang Baduy merupakan keturunan pengikut Kerajaan Padjadjaran, penduduk asli yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai lingkungan.

Rombongan beristirahat di beberapa rumah warga Kampung Cibeo,  saya sendiri tinggal di rumah Pak Jom (34), seorang kepala keluarga dengan 1 orang anak laki-laki berumur sekitar 4 tahun.

Bermalam di Baduy Dalam, jangan berpikir akan ada lampu, karena masyarakat adat Baduy memang berpegang pada prinsip bahwa menggunakan listrik merupakan hal yang tabu, saya sendiri kurang paham. Untuk penerangan, masyarakat adat Baduy Dalam menggunakan lampu minyak. Tentu saja untuk para pelancong, senter atau headlamp akan sangat berguna apabila pada malam hari ingin pergi ke sungai untuk buang air. Buang air di sungai memang bukan perilaku hidup yang baik dilihat dari sisi kesehatan masyarakat dan lingkungan, tetapi seperti inilah kondisinya, tidak ada kamar mandi atau jamban.

Beberapa hal yang merupakan bentuk kemandirian masyarakat adat Baduy selain tidak menggunakan listrik, antara lain masyarakat adat Baduy bercocok tanam, dan satu hal positif yang mereka pertahankan sampai saat ini adalah tidak menggunakan pupuk kimia buatan pabrik. Meskipun banyak yang memiliki profesi sebagai penenun, pencari dan penjual gula aren atau madu lebah, atau membuka warung kebutuhan sehari-hari, berladang atau bercocok tanam merupakan pekerjaan yang mereka anggap sebagai pekerjaan utama, bahkan sebagai kewajiban.

Pakaian yang mereka gunakan, merupakan hasil tenunan para wanita-wanita Baduy, hand made. Masyarakat adat Baduy hidup dalam kesederhanaan, mereka menyatu dengan alam. Jujur saja, mereka mungkin lebih bijaksana dibandingkan dengan kita dalam hal 'memanfaatkan' kekayaan alam.

Denah dan Struktur Pemerintahan Adat Badui  (sumber: tanahair.kompas.com)



Esok harinya, Minggu (30/06/13) pukul 07.30, perjalanan kami lanjutkan menuju Jembatan Akar sekaligus pulang melalui Kampung Dandang. Trekking menuju Jembatan Akar ini mengambil jalur yang berbeda dari jalur pada saat trekking dari Ciboleger menuju Cibeo. Memang sedikit lebih jauh, tetapi Jembatan Akar merupakan salah satu lokasi yang direkomendasikan untuk dikunjungi. Menurut cerita dari seorang warga Baduy Dalam, jembatan tersebut awalnya hanya dibangun dengan batang-batang bambu yang disusun untuk menyeberangi sungai, tetapi seiring berjalannya waktu, akar-akar pohon di tepi sungai tersebut menjalar dan membentuk suatu tautan yang kuat di antara batang-batang bambu tersebut.

Jembatan akar, salah satu spot untuk mengambil gambar di Baduy


Tengah hari, kami beristirahat di Kampung Dandang, sebelum akhirnya kami bergegas menuju Rangkas untuk pulang kembali ke Jakarta, dan tentu saja kembali ke Bogor.

Bahagia rasanya bisa bergabung dalam perjalanan ini, menjelajah alam, menyelami kehidupan salah satu kearifan lokal Indonesia. Bukan soal destinasi, karena perjalanan itu bukan tentang destinasi, melainkan bagaimana menikmati proses perjalanan itu sendiri. Kurang lebih seperti yang diungkapkan oleh Greg Anderson, "Focus on the journey, not the destination. Joy is found not in finishing an activity but in doing it". Jadi, perjalanan ke Baduy ini memang bukan perjalanan jauh ke tempat yang waaah, tetapi inilah perjalanan dimana saya merasa bahagia. Tentu saja juga bahagia karena bisa kembali menemui riuh ramainya Bogor, dengan membawa cerita. Salam!

“Travel does not exist without home. If we never return to the place we started, we would just be wandering, lost. Home is a reflecting surface, a place to measure our growth and enrich us after being infused with the outside world.” – Josh Gates

Thanks to: Teman-teman backpacker dari IPB: Arif, Nova, Adi Ningrum, Arsi, Kak Indra, Mba' Laras, Mba' Ninis, Mba' Karunia, Mba' Eva; Bu Is dan keluarganya Mba' Ninis di Jatibunder-Tanah Abang; teman-teman Backpacker Indonesia; and last but not least Mba' Vira selaku organizer kegiatan cultural trekking ini.

 

Dokter hewan. Dosen. Blog menjadi media tulis selain kertas dan aplikasi pengolah teks.

14 comments

  1. mantaaaaf,,,
    1. Haturnuhun aidell, recommended nih buat kamu.
  2. mantaaaaf
    1. thanks mas agung, akhirnya aku ngrasain trekking ke Baduy...haha...'funtastic'!
  3. wow keren
    1. trims dah mampir ya monik..
  4. aaaaak saya pengen dateng ke siniiiiiiii
    1. recommended nih,hehe...travelling murah, tp pasti berkesan mas.
  5. Beneran gempor waktu sampai baduy dalam, tp belajar budaya mereka menjadikan kita jauh lebih bersyukur akan hidup kita
    1. wahahaha. setuju, dengkul dah mau copot...tp ya terbayarkan dgn suasana disana. Yak, poinnya adalah travelling supaya bsa lebih bersyukur... thanks for visiting my blog mas toro.
  6. awalnya cari referensi buat laporan, lha kok malah nemu blognya mas danang
    huaaaa mass... kerennn... udah ada rencana awal taun kmrnin, tp ga jadi :((
    harus kesana kpn2 :D
    1. hahaha....seru kok....dijamin puas.
  7. Kerennn. saya juga mau hiking nih mas ke Semeru besok :D
    1. wah, mantap, aku baru bisa memimpikan semeru.... salam untuk puncak mahameru mas! :D
      Tks kunjungannya
Komentar atau tidak komentar tetap thank you.