Lebaran, Momen Kemanunggalan

Bulan puasa sebentar lagi menemukan ujungnya di tahun ini, menjemput Idul Fitri atau umum disebut lebaran. Entah perasaan apa yang dirasakan dalam hati manusia, pastinya berbeda-beda. Berbagai macam rasa tadi hanyalah sebagai ungkapan atas pandangan tiap-tiap orang, terlepas dari makna Idul Fitri dalam perspektif seorang yang beriman. Jangan ditanya lagi, sebagai seorang yang beriman, pasti berakhirnya bulan ramadhan justru membawa kesedihan. Tetapi, terlepas dari stereotipe dalam memaknai lebaran, pasti ada rasa dan misi lain dalam menyambut lebaran.

Lebaran, yang oleh Melody Violine diyakini berasal dari kata lebar (huruf 'e' dibaca seperti pada kata 'penuh') dalam bahasa Jawa Ngoko yang berarti bubar, setelah, sehabis. Bahasa Sunda sendiri memiliki kata lebar yang berarti bebas, lepas, habis, berakhir. Masyarakat umumnya memaknai lebar dengan arti setelah habisnya bulan puasa, juga lebar atas kesalahan antar sesama manusia, lebur dosa sesama dan dosa kepada Sang Pencipta.

Bagi saya, bukan dalam konteks makna secara religi, lebaran merupakan momen dimana saya bisa berkumpul bersama keluarga, tetangga, dan teman. Momen lebaran adalah saat yang tepat untuk sungkeman, meminta maaf atas kesalahan kepada orang tua. Ada lagi, syawalan atau halal bi halal, sebuah budaya positif yang berkembang di masyarakat kita (masyarakat daerah saya, dan mungkin di beberapa daerah lain), berbentuk aktivitas berkumpul, disertai ceramah dari seorang mubaligh, dan diakhiri dengan bermaaf-maafan. Bahkan, dengan orang yang tidak kita kenal pun, belum pernah bertemu sekalipun, bermaafan itu dilakukan, sungguh spiritualisme yang hebat.

Dalam keluarga saya pun, secara turun temurun mengenal tradisi syawalan trah atau syawalan bani (bani berarti keturunan) dalam sebuah keluarga besar dengan silsilah keluarga yang saya sendiri kadang lupa jika harus mengingat silsilah yang bukan segaris. Sering dan selalu disampaikan, syawalan bani pada momen lebaran tersebut bermakna kemanunggalan, nglumpukake balung pisah (mengumpulkan tulang-tulang yang terpisah) yang berarti mempertemukan kembali anggota-anggota keluarga yang sudah berpencar. 

Selain keluarga, lebaran juga membawa momen kebersamaan bersama teman-teman yang sudah lama tidak bertemu, hampir setiap lebaran saya pasti (ingin) menyempatkan bertemu dengan teman-teman seperjuangan sewaktu sekolah. Mengenang perjuangan untuk menghadapi ujian nasional, kebersamaan, suka cita saat jalan-jalan bersama.  Mereka, rata-rata sudah menyelami dunia kerja, dunia yang (saat ini) belum saya geluti. Jelasnya, saya bangga mempunyai teman-teman seperti mereka.

Lagi, kembali ke masa lalu, jaman SD dulu, pas lebaran, teman-teman sekelas selalu menyempatkan sowan ke tempat guru-guru. Pertama kali, saya ingat ibu menyuruh saya, karena guru juga merupakan orang tua di sekolah. Kebiasaan baik ini masih saya pertahankan sampai bangku SMA. 

Bagi yang mudik, momen lebaran yang sekaligus liburan tentu saja tidak ingin disia-siakan, kepulangan tentu harus dipersiapkan, mulai dari pemilihan moda transportasi yang pas dari segi kantong hingga rencana untuk jalan-jalan. Saya sendiri mudik ke Bantul, dan berharap selain bisa berkumpul bersama keluarga, juga sempat untuk jalan-jalan ke beberapa destinasi wisata, wisata alam khususnya. Jadi, selain berkumpul bersama keluarga, apakah Anda sudah siap jalan-jalan?

"Selamat menyambut hari kemenangan, Maaf lahir dan bathin atas segala khilaf tutur kata maupun perbuatan."
Dokter hewan. Dosen. Blog menjadi media tulis selain kertas dan aplikasi pengolah teks.

1 comment

  1. salam sukses gan, bagi2 motivasi .,
    jujur dalam segala hal tidak akan mengubah duniamu menjadi buruk ,.
    ditunggu kunjungan baliknya gan .,.
Komentar atau tidak komentar tetap thank you.