Posts

5 Tahun Lalu, 2 Juli 2007

Genap lima tahun, sejak saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di bumi Bogor ini. Sama artinya dengan lima tahun sudah saya menuntut ilmu, mencari kebenaran atas apa yang belum saya ketahui, bukan mencari pembenaran atas apa yang diyakini. 

Minggu, 1 Juli 2007, saya berangkat dari rumah pukul 17.00, setelah sebelumnya merapikan barang-barang yang sudah disiapkan sehari sebelumnya. Sedih rasanya harus meninggalkan rumah, dimana saya dibesarkan, menghabiskan sebagian besar masa kecil saya. Rumah sederhana di sebelah masjid, di sebuah dusun di Desa Gadingharjo, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, menjadi saksi perjalanan masa kecil saya hingga lulus SMA. Waktu itu orang tua menginginkan saya untuk kuliah di Jogja saja, secara banyak universitas besar yang berdiri di Kota Pelajar tersebut. 

Saya ingat betul, dua kali saya gagal memenuhi harapan. Pertama, lulus Sekolah Menengah Pertama, saya berniat masuk ke salah satu SMA terbaik di Jogja, sudah mendaftar dan menunggu pengumuman di hari itu. Sayangnya, kebijakan terkait pendaftaran masuk SMA dari Dinas Pendidikan Propinsi Jogjakarta tidak sama dengan Dinas Pendidikan luar kota, entah siapa yang salah, akibatnya lulusan SMA dari luar Propinsi Jogjakarta seakan hanya gambling, siapa tahu keterima di salah satu SMA terbaik nasional tersebut, kalaupun tidak masih ada kesempatan mendaftar di kotanya. Memandangi screen daftar siswa pendaftar beserta Nilai Ujian Murni (NUM) yang akhirnya mati, membuat Ibu saya khawatir jika saya tidak diterima, akhirnya berkas pendaftaran saya dicabut, kurang dari setengah jam sebelum masa pendaftaran ditutup serentak se-DIY. Waktu yang sempit memaksa untuk bergegas kembali ke kabupaten Bantul, untuk segera mendaftar di SMA terbaik di Kabupaten, yaitu SMA N 1 Bantul. Alhamdulillah masih terkejar waktunya, meskipun saat sampai di sekolah tersebut, banyak teriakan yang menyudutkan. Saya berusaha paham perasaan dan kekhawatiran orang tua calon siswa atas nasib anaknya, diterima atau tergeser akibat kedatangan saya. 

Kedua, saya gagal untuk kuliah di Jogja, untuk menjadi mahasiswa kedokteran seperti yang diharapkan orang tua saya. Tapi bukan berarti saya gagal untuk kesempatan lain, karena beberapa waktu sebelum lulus SMA, saya sudah diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Dari dua pilihan, saya diterima di pilihan kedua, yaitu jurusan kedokteran hewan. 

Kembali lagi, tanggal 2 Juli 2007, saya, diantar keluarga saya, sampai di Bogor setelah tersiksa dengan kemacetan di Jakarta-Bogor. Acara registrasi ulang yang dijadwalkan pukul 08.00 pun harus saya ikuti setelah telat sekitar dua jam, untungnya masih diperbolehkan masuk dan bergabung dengan teman-teman lainnya. Setelah selesai registrasi ulang, mahasiswa baru IPB diarahkan untuk menuju Asrama Putra dan Putri Tingkat Persiapan Bersama (TPB). Ini uniknya IPB, di tahun pertama semua mahasiswa baru diwajibkan mengikuti program TPB di asrama. Kampus IPB merupakan satu-satunya universitas yang menjaring putra daerah calon mahasiswa melalui jalur USMI sekitar 70%, dari berbagai daerah di Indonesia. Asrama TPB bertujuan untuk proses adaptasi dengan masyarakat baru, dengan beragam karakter, suku, agama, budaya, latar belakang, dan keragaman lain untuk satu tujuan, membangun mental mahasiswanya melalui cara dihadapkan pada masyarakat multikultural. Merasa beruntung mengenal teman dari berbagai daerah, berbagai karakter dan latar belakang. Hampir dari semua bagian Indonesia, putra daerah berkumpul untuk menuntut ilmu, bersama di Kampus Rakyat ini.

Melewati satu tahun masa Tingkat Persiapan Bersama, akhirnya saya mulai menapaki masa-masa kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan. Singkatnya, ternyata ilmu kedokteran hewan (veterinary medicine) itu lebih rumit dari ilmu kedokteran manusia, dengan basic ilmu yang sama, kedokteran hewan mempelajari berbagai jenis spesies makhluk hidup dan bidang ilmu terapannya. Semua hal tersebut membuat saya semakin yakin, bahwa Tuhan memang tidak pernah salah dalam menempatkan apapun sesuai bagiannya, sesuai kemampuannya. Alhamdulillah, selama kuliah di jurusan Kedokteran Hewan, saya bisa bertahan hingga menyelesaikan studi program sarjana. Studi yang tidak selesai tepat waktu 4 tahun, tanpa predikat Cum Laude apalagi indeks predikat kumulatif sempurna. Akan tetapi, masa studi yang banyak minus-nya itu juga yang memberikan saya kesempatan untuk belajar banyak hal, bukan sekedar mencapai huruf mutu A. Saya memang tidak banyak mendapat huruf mutu A yang hanya akan tercetak di transkrip nilai, tetapi saya mendapat hal lebih banyak yang tercetak dalam diri saya, dalam diri seorang Danang Dwi Cahyadi.

Banyak cerita dan pengalaman saya dapat selama belajar di Kota Hujan ini, pelajaran untuk menjadi seorang pembelajar, yang belajar dari apapun. Kalimat bijak mengajarkan saya untuk tidak puas menjadi orang pandai, yang belajar hanya pada orang cerdas, melainkan untuk menjadi orang bijak yang belajar dari apapun, termasuk proses gagal dalam kehidupan. 

Kini, 2 Juli 2012, genap lima tahun saya menghabiskan sebagian besar waktu di Bogor, semakin saya sadar bahwa tidak perlu saya melirik dan menyesali kegagalan saya di masa lampau, karena saat ini saya sangat bangga telah berada di sini, bisa mengetik huruf demi huruf, kata demi kata, mengungkapkan rasa syukur, Alhamdulillah. Sangat bangga mendengar kabar dari sahabat dan teman-teman saya yang sudah memasuki dunia kerja, meniti karir dan mengamalkan ilmu-ilmunya, bahkan sudah ada yang menggenapkan sunnah Rasul, membina sebuah keluarga. Saya ingat kalimat bijak yang dulu sempat diucapkan salah satu sahabat saya, bahwa kalau suatu saat nanti kami sukses, harus mengajak teman-teman lain untuk sukses juga. Meskipun dalam hati, saya yakin tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk kesuksesan teman-teman saya, karena saya yakin mereka dapat melakukan hal-hal luar biasa, yang tidak dapat saya bayangkan. 

Dokter hewan. Dosen. Blog menjadi media tulis selain kertas dan aplikasi pengolah teks.

1 comment

  1. Keren Sob

    www.kiostiket.com
Komentar atau tidak komentar tetap thank you.