Badak Jawa Menghidupi Masyarakat di Wilayah Zona Penyangga TNUK

Jumat (15/06/2012) kemarin, WWF Indonesia bersama dengan media dan bloggers melakukan perjalanan menuju Cinibung, salah satu kampung yang berlokasi di wilayah zona penyangga Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Kegiatan Rhino Trip ke Ujung Kulon ini diawali dengan briefing di kantor WWF, sekitar pukul 17.30 WIB. Blogger yang ikut serta dalam kegiatan ini merupakan beberapa blogger yang terpilih sebagai pemenang kontes blog yang diselenggarakan oleh WWF bekerja sama dengan BLOGdetik, saya salah satu dari 5 blogger tersebut. Setelah melakukan perjalanan selama hampir 7 jam, akhirnya hari Sabtu dini hari Tim Rhino Trip sampai di salah satu villa milik kerabat WWF Indonesia, yang terletak di kampung Cinibung, Desa Kertajaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang. 

Perjalanan ini memiliki misi untuk mengeksplorasi lebih dalam terkait habitat terakhir badak jawa, selain tentu saja mengkaji kondisi sosioekonomi masyarakat sekitar TNUK. Kami juga mendapat kesempatan untuk melakukan tracking pada jalur lari sepanjang 10 km yang akan digunakan dalam kegian fun running RunRhinoRun! yang dimotori oleh RhinoCare WWF Indonesia bersama komunitas Indorunners tanggal 23-24 Juni mendatang. Melewati jalur pada 4 km pertama, peserta akan dimanjakan dengan panorama yang begitu menakjubkan, hamparan sawah dan hutan yang begitu hijau. Pada jalur selanjutnya, panorama pantai dan pulau yang indah. Belum lagi, melihat kerbau yang sedang merumput di lapangan penggembalaan, sungguh kegiatan ini sayang untuk dilewatkan.
Suasana dan panorama yang memanjakan para pelancong (Danang/JurnalMasdab)

Kampung Cinibung merupakan daerah yang berada di zona penyangga TNUK dengan masyarakat tradisional yang memiliki mata pencaharian bervariasi, yaitu bersawah, melaut, dan beternak (backyard farming). WWF Indonesia juga melakukan pembinaan kepada masyarakat untuk mengembangkan potensi dan kearifan lokal, salah satu bentuknya adalah pembuatan kerajinan ukiran kayu dengan bentuk badak jawa. Satu hal yang patut diapresiasi adalah bahwa masyarakat sudah sadar konservasi, yaitu dengan tidak menggunakan kayu-kayu dari pohon di sekitar taman nasional melainkan menggunakan kayu limbah.  Kerajinan patung badak jawa ini sudah berkembang di Desa Ujung Jaya, disamping usaha lain yang digerakkan oleh Lembaga Konservasi Desa (LKD).

Pernak-pernik kerajinan masyarakat wilayah zona penyangga TNUK (Danang/JurnalMasdab)
Armat Fauzi Ridwan (34), salah satu profil pengrajin yang terus berupaya mengembangkan usaha kerajinan patung badak ini sejak 25 Juni 1995 di Ujung Jaya, serta menularkan ke masyarakat lain. "Masyarakat banyak yang ikut, muda maupun tua, tetapi ya mereka  banyak yang masih belajar, untuk membuat satu patung berukuran panjang 13 cm saja, butuh waktu 3 jam", tandasnya. Omset dari usaha kerajinan patung badak tersebut antara 500 ribu hingga 1 juta perbulan, itu pun untuk sekelompok warga. Ketika ditanya, Armat mengungkapkan bahwa belum ada dukungan nyata dari pemerintah. Ajat Sudrajat (50), warga Ujung Jaya, juga berupaya memulai membuat kerajinan teko berbahan baku batok kelapa dengan ciri khas pernak-pernik badak. "Ya karena Ujung Kulon terkenal badak jawa-nya, kalau tekonya ditambah pernik badak kan alangkah manisnya", tambahnya sambil mengumbar senyum. Tidak jauh dari rumahnya, kaum ibu juga membuat kerajinan anyaman dari daun pandan, dengan produk berupa tas, dompet, tikar, dan lainnya yang juga dipercantik dengan pernak pernik badak. Potensi-potensi seperti ini lah yang perlu diperhatikan oleh pemerintah. 

Untuk wisata alam, Taman Nasional Ujung Kulon sendiri sudah melakukan upaya promosi, dengan daya tarik diving, snorkeling, surfing, dan fishing yang terkonsentrasi di kawasan Pulau Peucang dan Panaitan . Untuk yang berjiwa petualang, wisatawan dapat mencoba tracking di jalur-jalur habitat badak jawa, atau wildlife viewing untuk melihat satwa liar lain seperti banteng, merak, babi hutan, atau rusa timor. Canoing di sekitar habitat badak jawa juga bisa memanjakan wisatawan dengan panorama sungai dan muara di daerah Cigenter.
Canoing menjadi salah satu daya tarik wisata di TNUK (Danang/Jurnal Masdab)

Menilik lebih dalam lagi, kawasan penyangga TNUK yang kami datangi memang masih perlu dikembangkan lagi untuk membangun konsep Ecoedutourism. Salah satu yang sudah berkembang sebagai kawasan ekowisata adalah Pulau Peucang. Tentu saja daya tarik yang akan ditonjolkan dari kawasan ini harus didukung dengan infrastruktur yang baik pula, dengan tetap menjalankan konsep pengelolaan lestari, sehingga kawasan dalam zona penyangga tetap terjaga. Intinya, jangan sampai upaya konservasi akan terkalahkan oleh kepentingan dan keserakahan beberapa pihak, jangan sampai upaya untuk meningkatkan public awareness terhadap pelestarian badak jawa justru akan "menghabisi" populasi badak jawa secara perlahan, baik langsung maupun tidak langsung. Daya tarik badak jawa memang menjadi peluang untuk membantu menghidupi masyarakat sekitar TNUK, tinggal bagaimana semua ini dikelola dengan baik, dan tentunya dengan dukungan dari berbagai pihak, khususnya pemerintah.
Dukung Pelestarian Badak Jawa dan Satwa-satwa Indonesia. Salam lestari!


Thanks to:


Dokter hewan. Dosen. Blog menjadi media tulis selain kertas dan aplikasi pengolah teks.

4 comments

  1. cocok jadi reporter ente masdab hehe, mantaps banget nih reportasenya :D
    1. hohohoho, belajar bang jay...tulisan ente jg keren...ga nahaan...sayang kita ga ikut #RhinoTrip sabtu minggu ini...
  2. kalau aku baca tulisan ini kok kayak baca koran atau majalah, bahasanya jurnalis sekali. Kudu belajar banyak nih sama dokter hewan....
    selain belajar sama mas danang yg tulisannya memang keren sy juga kudu belajar banyak sama jurnalis beneran seperti Dianing sari yg dr Tempo.
    1. haiah, bisa aja ni pak guru....saya mau jd muridnya dong,wwkkwk
      gini nih yg ga enak, awal2nya muji ujung2nya bully....
      hoah
Komentar atau tidak komentar tetap thank you.