Anastesi pada Reptil

Bagi dokter hewan praktisi satwa eksotik seperti reptil, tentunya mereka harus tahu bagaimana handling and restraint reptil yang menjadi pasiennya. Sebagai mahasiswa kedokteran hewan, kita juga harus siap dengan profesi kita, ketika dihadapkan dengan pasien apapun, minimal ada pengetahuan dasar mengenai berbagai jenis hewan secara umum. Nah, sekedar share materi yang saya dapat dan saya baca saat ada pertemuan ilmiah nasional Asosiasi Dokter Hewan Satwaliar Akuatik dan Eksotik di Bogor.

Pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam anastesi reptil, yaitu kita harus mengetahui secara persis bobot badan (body weight) reptil tersebut. Tujuannya adalah untuk menghitung dosis obat yang akan digunakan. Pada reptil, premedikasi dengan preparat atropin tidak menjadi hal yang penting, karena salivasi pada saat operasi tidak signifikan. Reptil harus ditempatkan atau diberikan kondisi lingkungan yang spesifik untuk spesiesnya, baik sebelum, selama, maupun post-operasi.  

Sama seperti operasi hewan lain, reptil yang akan dioperasi dipuasakan terlebih dahulu, bedanya, reptil dipuasakan selama 24-96 jam untuk menghindari pembusukan pakan yang belum tercerna. Pada spesies yang lebih besar, seperti Boa dan Phyton, pemuasaan dilakukan 7-14 hari untuk memastikan pakan tercerna seluruhnya. Gangguan metabolik, kaheksia, infeksi kronis, dan kondisi lain sebelum operasi harus diperhatikan dalam menentukan keputusan anestesi, tentunya teknik handling yang benar juga penting untuk meminimalkan stres. Induksi preparat anestesi dapat diberikan dengan agen injeksi maupun inhalasi, melalui masker anestesi maupun ruang/kotak induksi. Lokasi penyuntikan dilakukan pada vena di bagian ventral ekor pada ular, kadal, dan buaya, sedangkan pada penyu, dilakukan di vena bagian dorsal ekor.

(sumber: Divers 1999)

Salah satu drug of choice yang digunakan adalah propofol karena onsetnya cepat, bebas dari efek samping eksitatori,  dan proses recovery yang relatif cepat. Sediaan ini diaplikasikan secara intrevena (IV). Penyuntikan ketamin dapat diberikan intramuskular (IM), dengan efek yang tergantung dari dosis. Penggunaan ketamin pada hewan yang kondisinya lemah tidak disarankan, dalam dosis tinggi akan menyebabkan apnea dan recovery lebih lama. Sediaan yang memblokade neuromuskular (gallamine) dapat digunakan untuk memfasilitasi intubasi dan anestesi inhalasi pada kura-kura besar dan jenis buaya. Untuk opsi penggunaan sediaan gas, isoflurane dapat digunakan sebagai pilihan, karena isoflurane tidak bersifat hepatotoksik, aman bagi pasien maupun operator.

Preparat umum yang digunakan.
Ketamin
10-40 mg/kg IM: berfungsi untuk sedasi, memperpanjang efek sakit
40-60 mg/kg IM: sedasi lebih dalam, tidak dianjurkan untuk hewan dalam kondisi lemah
Tiletamine/Zolazepam
10-15 mg/kg IM: digunakan untuk kura-kura, kadal, dan ular
1-2 mg.kg IM: digunakan untuk buaya
Gallamine 0.4-1 mg/kg IM: untuk buaya dan kura-kura besar
Propofol
10 mg/kg IV atau IO: anesthesi pada kadal dan ular
12-15 mg/kg IV atau IO: anesthesi untuk buaya dan penyu

Bacaan:
Divers SJ. 1999. Anesthetics in Reptiles. I.C.E Proceeding Vol.1.3
Dokter hewan. Dosen. Blog menjadi media tulis selain kertas dan aplikasi pengolah teks.

1 comment

  1. Kak,,aku punya kura-kura,,dia ada abses di bagian bawah matanya sama di lehernya.. kayak tumor gitu.. apa harus di operasi untuk mengambil jaringannya itu??
Komentar atau tidak komentar tetap thank you.