Susu Formula dan Enterobacter sakazakii

Semangat pagi semua!
danang-graphic-design.2011
Beberapa hari terakhir ini kita mendengar, melihat, dan mengamati bersama tentang berita susu formula di berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Berita tentang susu formula yang mengandung cemaran bakteri Enterobacter sakazakii ini merupakan cerita lama yang diungkit atau booming kembali. Maraknya pemberitaan mengenai susu formula untuk bayi tersebut bukan tanpa sebab, yaitu karena ada pihak yang menggugat. IPB, dalam hal ini sebagai pihak tergugat, yang pada beberapa tahun lalu (2003-2006) melakukan penelitian terhadap beberapa produk susu formula untuk bayi. Hingga pada tahun 2008, penelitian tersebut dirilis, tanpa menyebutkan merk dagang produk susu formula tersebut. Tapi sekarang, menurut kabar justru ada pihak yang menggugat IPB untuk membuka produk susu formula yang dimaksud. 

MA memang telah memutukan Pemerintah dan IPB harus mempublikasikan hasil penelitian tersebut hingga detail produk susu yang diuji. Pemerintah berargumen bahwa IPB tidak pernah melaporkan merk susu formula yang diuji dan hasilnya posotif kepada pihak pemerintah. Ada hal menarik yang perlu dicermati di sini, yaitu etiket seorang scientist, dimana peneliti IPB yang merupakan ilmuwan, tidak akan mengumumkan kepada publik terkait merk susu formula tersebut. Setelah MA memutuskan agar pihak IPB mengumumkan susu formula yang dimaksud, ada kemungkinan akan dipublikasikan, karena memang pengadilan (MA) yang memutuskan. Jika sampai sekarang belum ada pengumuman, karena memang surat resminya belum diterima, baik pemerintah maupun IPB.

Lalu, apa itu Enterobacter sakazakii? Ya, dari namanya sudah jelas, bahwa mikroorganisme pencemar tersebut merupakan bakteri gram negatif dari keluarga enterobacteriaceae. Organisme ini dikenal sebagai yellow pigmented Enterobacter cloacae.  Pada 1980, bakteri ini diperkenalkan sebagai bakteri jenis yang baru berdasarkan pada perbedaan analisis hibridasi DNA, reaksi biokimia dan uji kepekaan terhadap antibiotika. Disebutkan,  dengan hibridasi DNA menunjukkan E. sakazakii 53-54 persen dikaitkan dengan 2 spesies yang berbeda genus, yaitu Enterobacter dan Citrobacter. Nah, menurut sumber yang saya baca, E.sakazakii sendiri telah ditemukan pada tahun 1958 pada 78 kasus bayi dengan kasus meningitis. Bakteri ini bisa menginfeksi segala usia, tetapi memang bayi yang lebih rentan. Jika ada artikel yang justru mengatakan bahwa "Temuan peneliti IPB terkait E.sakazakii mungkin tidak terlalu mengejutkan", saya sepakat. Peneliti IPB kan sebatas melakukan penelitian selama tahun 2003-2006 dengan mengambil beberapa produk susu formula untuk bayi dan hasilnya beberapa sampel dinyatakan positif. Penelitian di suatu negara pun juga memberikan hasil 20 kultur positif, dari 141 sampel produk susu formula. 

Tifatul Sembiring, melalui akun twitter-nya menyatakan bahwa selama tahun 2008-2011 BPOM tidak menemukan susu tercemar E.sakazakii. Pada dasarnya, penelitian yang dilakukan oleh peneliti IPB ini mengambil sampel pada saat penelitian dilakukan, sehingga jika dilakukan penelitian oleh BPOM tahun 2008-2011, belum tentu hasilnya sama. Bahkan, hasil penelitian IPB tersebut dapat menjadi evaluasi bagi produsen susu formula. Prinsipnya tidak ada pangan, termasuk susu, tidak ada yang steril. Produsen hanya bisa melakukan upaya menekan dan  mengurangi tingkat cemaran oleh mikroorganisme. Tapi memang, karena Indonesia termasuk salah satu dari 184 negara anggota Codex (Standar Kesehatan Konsumen), pada Oktober 2008 ditetapkan standar yang berlaku di Indonesia bahwa susu di Indonesia tidak boleh mengandung Enterobacter Sakazakii. 

Sebenarnya, berita ini tidak perlu sampai meresahkan masyarakat, karena masyarakat sendiri justru dapat membuat spekulasi yang beragam dan jauh dari faktanya. Peran media juga sangat signifikan, jangan sampai media malah mengeluarkan pemberitaan yang "dibumbui". Didapatkannya hasil positif oleh peneliti IPB pada  tahun-tahun sebelumnya, (2003-2006) dan penelitian BPOM (2008-2011) yang tidak menemukan adanya susu formula tercemar bakteri ini, sudah menjadi suatu mekanisme aksi-reaksi, sesuai dengan kaidah ilmiah, kecuali ada pihak yang tidak menjunjung tinggi nilai-nilai keilmuan atau disebabkan oleh kepentingan-kepentingan politis. Di sini, sekali lagi mengingatkan kita, betapa pentingnya peran dokter hewan dalam kesehatan masyarakat. Faktanya, penelitian ini dilakukan oleh seorang dokter hewan, karena memang yang berwenang terhadap pangan asal hewan (daging, telur, susu) adalah dokter hewan. Dokter hewan menjadi garda terdepan dalam keamanan pangan asal hewan. Ambil hikmahnya saja, pernyataan Menkes terkait susu formula yang tidak dianjurkan memang ada benarnya. Ada ASI (air susu ibu) yang gratis dan bergizi tinggi  kok malah lebih milih "ASI" yang lain (air susu instan). Viva veteriner!


Sumber bacaan:
1. Pontianak Post. 2011. Menkes Bela Produsen Susus Berbakteri. http://www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=86947
2. Kompas Health. 2011. Apa sih Enterobacter sakazakii itu?. dalam http://health.kompas.com/read/2011/02/10/08414748/Apa.Sih.Enterobacter.Sakazakii.Itu.
3. Irwan Nugroho. 2011. dalam detikNews:  http://www.detiknews.com/read/2011/02/10/120504/1568477/10/2008-2011-bpom-tak-temukan-susu-formula-ber-enterobacter-sakazakii?n991103605
Dokter hewan. Dosen. Blog menjadi media tulis selain kertas dan aplikasi pengolah teks.

Post a Comment

Komentar atau tidak komentar tetap thank you.